Sunday, May 24, 2015

       
sumber gambar


       Malam dingin menyelimuti kota setelah seharian diguyur hujan deras. Arina melompati satu demi satu genangan air di pinggir jalan raya ramai. Ramai karena memang saat itu adalah jam kantor pulang. Sedang Arina baru saja pulang dari kantornya setelah seharian mengejar deadline dari bosnya. Lelah seharian bekerja tak membuat hati Arina diam membisu. Hatinya terus berkecamuk antara dendam, amarah, hasrat, keingintahuan, dan rasa bingung. Baginya tak masalah seharian bekerja mengejar deadline untuk membuat kantongnya terus bernafas, begitu pula dengan adiknya bisa terus mencium bangku sekolah, serta orang tuanya bisa merasa bangga dengan dirinya. Walaupun jauh keluarga Arina berada, itu menjadi cambuk bagina untuk bekerja keras di kota besar ini. Peluang yang ada tidak mau dia sia-siakan. Tapi mengapa ada seorang laki-laki yang baru saja datang dalam kehidupannya merusak semuanya.
    
      Sudah banyak lelaki dalam kehidupannya yang silih berganti menghias hatinya, sehingga dia bosan dengan semua itu. Jenuh dirasa hati yang sudah busuk mendengar kata cinta dari berbagai mulut laki-laki. Akhirnya dalam kehidupan selanjutnya dia mengalami masalah besar. Karena laki-laki yang menyayanginya dia harus mengalami masalah keluarga. Perdebatan besar antara orang tuanya dan Arina tak terelakkan. Ya dalam hatinya yang terdalam dia merasa sepi, dia berusaha mencari keramaian. Akhirnya banyak laki-laki datang mencoba meramaikan hatinya. Sudah busuk, pikirnya menilai sama semua laki-laki.

         Beruntunglah, Tuhan masih menyayangi Arina. Tersadarkan dari mimpi panjang yang buruk Arina meyakinkan diri untuk mencari kerja untuk membantu orang tuanya dan melihat adik-adiknya tetap bisa pergi mencari ilmu, tidak lupa juga mengajarkan ilmu kehidupan yang dia dapat kepada adik-adiknya. Berangkat Arina menuju kota besar yang sebenarnya sudah usang dan rapuh. Padahal jauh waktu terdahulu Arina begitu membenci kota ini dan bersumpah tidak akan datang ke kota ini. Sekarang dia harus membayar sumpahnya demi orang tuanya. Tidak lupa dia meyakinkan untuk melupakan perasaan hati. Baginya perasaan itu semu tidak benar adanya. Hanya mitos cerita leluhur tanpa ada arti.

           Namun hari ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama dalam kesepian dia tidak mampu bergerak. Benar-benar tidak mampu bergerak sama sekali untuk menyediakan sedikit ruang kosong untuk bernafas hatinya pun rasanya tidak mampu. Hati sepinya seakan menjadi ramai sekali seperti perjalanan pulangnya setiap hari menyusuri kota tua ini. Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang entah sengaja atau tidak membuat hatinya menjadi ramai dan bising. Membuat kemacetan tanpa henti yang membuat tidak mampu bergerak. Pertama kali dia rasakan perasaan ini. Asam garamnya dalam dunia percintaan seakan hilang lenyap tanpa ada jejak sedikitpun menghadapi situasi ini. Dilihat pertama kali lelaki ini biasa, tak ada yang spesial dari segi apapun, wajah standard, tampan seperti artis korea pun tidak, dibilang jelek pun mungkin iya walaupun agak unik wajahnya. Segi ekonomi jelas tidak seperti mantan-mantanya terdahulu. Tapi dia adalah pejuang juga sepertinya, dia adalah pelawak baginya di saat dia jatuh seakan mengerti saja dia sedang down. Walaupun terkadang menjengkelkan dengan sifatnya itu. Arina sesungguhnya tidak menyangka dibalik wajahnya yang terlihat tua itu ternyata memang sangat dewasa dan yang membuatnya senang disisinya itu kadang muncul sifat kekanakan. 

          Satu langkah lompatanya ternyata salah pijakan, dia oleng dan hampir terjatuh. Tak disangka muncul tangan lelaki dengan kuat menahan dia terjatuh. Sial, teriaknya sekeras-kerasnya dalam hati. Laki-laki yang menolongnya adalah yang dari tadi ia pikirkan. Semenjak peristiwa itulah akhirnya Arina semakin dekat saja dengan Hary, nama laki-laki itu. Dekatnya mereka sering diejek teman sekantor. "Haha kalian seperti orang pacaran saja!" itu yang sering terlontar dalam makian mereka. Ya Arina dan Hary menanggapi dengan senyum saja. Bagi Arina, pacar adalah momen siap untuk melepas sayang kepada orang itu, bagi Hary, pacar adalah momen perpisahan terburuk. Hati memang tidak mampu berbohong walaupun mulut mampu mengucapkan seribu dusta tapi hati masih menyimpan satu kejujuran. Hati Arina jauh sangat mencintai Hary, dan Hary juga begitu.

          "Apa kamu punya perasaan ke aku setelah kita sangat dekat ini?" Tanya Hari.
          "Tidak ada sama sekali, kenapa?" jawab Arina.
          "Tak apa, hanya bertanya saja" kata Hary sekenanya.

        Akhirnya entah karena kemacetan yang sudah terlalu parah membuat hati Hary benar-benar lelah tidak bis bergerak membuatnya berani menyatakan isi perasaanya. Aneh, yang ada dalam pikiran Arina. Bukan karena Hary mengungkapkannya dengan cara yang aneh atau memberikan sesuatu yang aneh atau tingkahnya yang dia ejek aneh, tetapi semua laki-laki yang pernah meyukainya setelah bilang perasaan mereka pasti bilang keinginan mereka untuk menjadikan Arina sebagai pacarnya, begitu tidak yang terlontar sudah dipastikan mereka akan menjauh sejauh-jauhnya hilang tak berbekas. Tapi kali ini aneh, Hary hanya melontarkan perasaany saja tidak ada ungkapan pacar, dan lebih anehya dia semakin dekat saja dengan Hary. Akhirnya hati yang sepi menjadi ramai macet padat tak bergerak.


             


Next
Newer Post
Previous
This is the last post.

0 comments:

Post a Comment