| http://almanshuroh.net/wp-content/uploads/2014/03/foto-pemandangan-hutan-gelap.jpg |
Hosh..Hosh….
Maria
terngah-engah berlari masuk jauh ke dalam hutan yang gelap diiringi suara
burung hantu. Di belakangnya seorang pria berusaha mengejar Maria. Dengan
sekuat tenaga Maria berlari, namun tenaga yang ia punya semakin medekat
batasnya, dia berpikir cepat bagaimana cara untuknya kabur. Maria melihat
sekelilingnya, dia kaget di sekitarnya hanya terlihat pepohonan dan
semak-semak, tidak sadar ternyata dirinya sudah berada jauh di dalam hutan,
lalu dia menengok ke belakang, pria yang mengejarnya sudah tidak terlihat. Dia
memutuskan bersandar sesaat untuk beristirahat di sebuah pohon besar.
Dalam pekatnya malam, Maria memulai
berjalan kembali. Kebingungan dengan arah yang akan dia ambil, Maria memutuskan
mengambil arah pada sebuah jalan yang terlihat seperti jalan setapak. Dia ikuti
terus jalan itu, entah sudah berapa jam dia berjalan, tenaganya semakin lama
melemah, tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya, dehidrasi
merasuk ke dalam tubuhnya, langkah kakinya semakin melambat, pikiran Maria
hanya tertuju pada ujung jalan yang dia lalui saat ini. Tapi tubuhnya tidak
bisa berbohong, kedua matanya tiba-tiba berkunang-kunang dan akhirnya Maria
terjatuh pingsan.
Sinar mentari yang hangat menyentuh
kulit Maria yang putih. Kedua matanya pun terpaksa membuka sebagai respon balik
dari cahaya yang sedikit memaksa masuk dari sela-sela jendela tertutup kelambu.
Dalam hitungan detik Maria tersentak melihat kondisi sekelilingnya bukanlah
lagi hutan lagi melainkan sebuah kamar yang tertata rapi dengan dinding terbuat
dari kayu-kayu pinus yang tersusun rapi indah nan alami.
Kraaaaaak…. Pintu kamar terbuka
perlahan dengan bunyi khasnya semakin mengagetkan Maria, reflek dia mengambil
selimut menutupi tubuhnya sebagai perlindungan dari seseorang atau apapun yang
mungkin bisa menyerang dirinya. Lalu dari siluet muncul sosok bayangan seorang
laki-laki tinggi berbadan tegap menuju ke arahnya membawa sesuatu yang
mengeluarkan asap. Maria semakin ketakutan. “Mba, dimakan dulu buburnya” kata
suara itu dari siluetnya meletakkan sesuatu yang ternyata mangkok dengan bubur
hangat di atas meja yang tak jauh dari tempat tidurnya.
Sosok laki-laki itu pun menghilang
seiring sejuta pertanyaan terpasang dalam wajah Maria. Maria hanya terdiam
dalam teka-teki apa yang sudah terjadi pada dirinya. Penuh risau dia akhirnya
memakan yang kata laki-laki itu adalah bubur. Sendok pertama dia mencicipi
dengan ujung lidahnya, sangat hati-hati dia mencobanya. Wajahnya berubah ceria
seketika, ternyata sanga nikmat makanan yang dihidangkan oleh laki-laki itu.
Pagi,siang, dan malam lelaki itu
selalu datang membawkan makanan untuk Maria. Tapi Maria tidak pernahtahu bentuk
wajahnya. Suara dari pria itu pun hanya samar dia mampu mendengarnya. Rasa
ingin tahu akan pria itu pun mulai menggelitik pikirannya. Pada hari ketiga dia
pun sudah bersiap dengan pertanyaan kepada laki-laki tersebut. Tepat setelah
laki-laki itu mempersilahkan Maria untuk makan, “Maaf, saya dimana ya? APa yang
terjadi dengan saya? Dan tuan ini siapa?” tanya Maria pada sosok itu.
“Hmm… Saya hanyalah lelaki penjaga
hutan ini, tenang kamu aman di rumah ini, selama kamu disini saya tidak pernah
menyentuh sedikit pun diri kamu” Jawab sosok itu dari balik siluet bayangan.
Sesaat setelah menjawab pertanyaan sosok itu terlihat berbalik untuk keluar. “Tunggu,
bolehkah saya melihat sosok anda, agar saya benar merasa aman” sergah Maria
sebelum sosok itu benar keluar. “Alangkah baiknya kamu melihat saya di saat
kamu cukup sehat untuk pergi kembali ke desa asal kamu.” Jawab sosok itu.
Sebelum Maria menyanggah lagi, sosok itu sudah keluar dari kamar itu.
Hati Maria masih terselimuti siapa
sosok tersebut. Rasa penasaran tak dapat ia sembunyikan. Baginya kembali ke
desa asal dirinya sudah tidak mungkin, Kembali Maria mencoba mengingat
bagaimana beberapa hari sebelumnya di desa Svenska, Maria menjalani kehidupan
begitu tenang. Bersama kedua orang tuanya mereka menjalani kehidupan berburu
babi hutan atau pun burung-burung yang mungkin bisa menjadi santapan makan
mereka. Kemudian ketika sore mnejelang mereka bersama bersenandung riang.
Tapi, di saat malam pekat, sesudah
turun hujan, dalam suasana dingin, suasana desa berubah mencekam. Tiba-tiba
hawa dingin yang menyelimuti berubah menjadi panas. Terlihat api dimana-mana.
Maria dan ibunya ketakutan dengan apa yang sedang terjadi. Ayah Maria melihat
keluar dari balik jendela. Teriakan para warga dimana-mana. Suara tangis bayi,
teriakan wanita, dentuman besi dari pedang beradu dengan para laki-laki desa yang
hanya bersenjatakan alat-alat seadanya. Mengerti keadaan mendesak, Ayah Maria
memerintahkan kepada Maria dan ibunya untuk segera pergi dari desa untuk
berlari ke dalam hutan.
Awalnya Maria menolak perintah
ayahnya tersebut. Dia tak ingin kebahagiaan mereka terenggut begitu saja oleh
keadaan. Sang ibu yang mengerti kondisi seperti itu, dengan nalurinya sang ibu
menarik Maria untuk lari ke dalam hutan lewat pintu belakang rumah mereka.
Tepat setelah mereka berdua keluar, terdengar pintu rumah mereka didobrak oleh
seseorang. Tanpa menoleh ke belakang mereka berdua segera berlari ke hutan.
Sial, seseorang dari kawanan yang menyerang desa mereka melihat Maria dan
ibunya berlari ke dalam hutan dan mengejar mereka. Sang ibu pun memerintahkan
Maria tetap berlari dan melarang Maria menoleh ke belakang. Di saat itu lah
sang ibu segera menghentikan langkahnya tanpa diketahui Maria untuk menghalangi
orang yang mengejar mereka.
Maria tidak mengetahui hal itu hanya
berlari secepat yang ia bisa. Tidak sadar dia berlari sampai akhirnya yang dia
ingat sudah pingsan dan tersadar sudah berada dalam sebuah kamar. Dia sadar,
ternyata ibunya mengorbankan diri untuk melindungi dirinya. Maria tak kuasa
menahan air matanya. Dia merasa sendiri saat ini. Tak tahu tujuan, tak tahu
harus bagaimana, tak tahu kapan, tak tahu apa yang akan dia lakukan berikutnya.
Bersambung…
0 comments:
Post a Comment