Wednesday, June 3, 2015


                Dalam kebingungan yang luar biasa Rapi mulai menangis, tapi segera oleh Kartono dipeluknya dengan hangat. Pelukan ini membuat Rapi diam dengan wajah yang mulai tersenyum memandangi Kartono. Seperti jauh dalam hatinya ada keinginan untuk mencium wajah yang tengah memeluknya saat ini. Tiba-tiba terdengar ketukan keras dari arah luar. Kartono pun segera menyuruh Bersih dan Rapi bersembunyi. Ketukan semakin keras saja dari luar sana menambah ketegangan di dalam gubuk. Setelah Bersih dan Rapi bersembunyi, tidak lupa Kartono menyembunyikan Derick.
                Sudah yakin ketiga orang tersebut dalam keadaan aman, Kartono membuka pintu itu tersebut. Berdiri di hadapannya dua orang pria berperawakan sama seperti si pemburu yang hampir dibunuh oleh Kartono. Dilihat sorot wajah kedua pemburu itu memasang wajah sangar. Seketika saja salah satunya menodongkan senjata ke arahnya. Dalam kondisi tersebut Kartono masih tenang. Dia sudah terbiasa hidup dalam ketegangan. “Dimana si Pemburu dengan badan besar itu?! Serahkan pada kami, kalau tidak kamu yang akan kami bawa!” bentak si pemburu yang tidak menodongkan senjata.
                “Bawa saja aku” Jawab Kartono dengan tenang. Jauh dalam angannya sudah terfikirkan rencana besar. Akhirnya kedua orang tersebut membawa Kartono pergi. Setelah Kartono pergi menjauh dibawa kedua orang suruhan itu segera Bersih dan Rapi keluar dari persembunyiannya. Rapi menangis terisak, sangat menyakitkan dirasanya menerima kenyataan kehilangan seseorang yang walaupun kita baru bertemunya untuk sesaat. Karena Pria itu sudah menjadi sosok yang berharga di matanya. Pria itu sudah mengisi hatinya yang selalu hampa.
                Di sisi lain Bersih bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Haruskah dia memeluknya seperti yang dilakukan Kartono atau dia harus apa. Sial, pikirnya. Dalam kondisi seperti ini tidak pernah diajarkan dalam dunia militer. Bahkan dalam setiap seminar dan pelatihan yang diikutinya tidak ada satupun yang menjelaskan bagaiman harus bersikap menghadapi sebuah ketegangan, menghadapi perempan yang menangis dan bagaimana bersikap dalam situasi menyelamatkan seseorang. Seakan semua yang dilakukannya dalam dunia milter sia-sia saja. Bersih duduk termenung menerawang jauh.
                Cukup jauh berjalan Kartono dan dua orang itu sampai pada sebuah pohon besar yang dia sangat mengenali pohon tersebut. Tidak teraa air matanya meleleh dari sumbernya. Teringat puluhan tahun yang lalu ayah dan ibunya tewas dibunuh di tempat ini. Seandainya saja waktu itu Derick tidak datang menyelamtkannya tentu dia ikut bersama ayah dan ibunya. Setelah itu dia meminta untuk hidup dalam hutan sendirian untuk terus mengenang keluarganya.
                Tangisnya tidak dapat disembunyikan lagi, pikrannya menjadi kacau, sesaat kemudian dia berlutut tidak mampu lagi menopang kesedihan yang driasakannya. Lalu muncul si Pemburu bengis itu dengan tawa liciknya dari balik pohon besar tersebut perisi ketika dia akan membunuh orang tuanya. Dan akhirnya dia sadar dua orang yang bersama saatnya ini adalah orang yang sama menangkap kedua orang tuanya dahulu. Rencananya hancur berantakan. Dia tidak mengetahui sama sekali kalau akan dibawa ke tempat seperti ini. Sekarang dia hanya berharap Bersih dan Rapi dapat menyelamatkan Derick, orang yang dulu telah mneyelamatkannya.
                “Kamu ingat kan tempat ini, anak bangsat?!” kata makian itu dilontarkan si Pemburu Bengis itu. Kartono hanya mampu menganggukkan kepalanya. “Sekarang waktu untuk kamu menyusul kedua orangtuamu! Kamu tahu orang tuamu adalah orang yang bodoh HAHAHA” tawa liciknya membuat Kartono geram karena sudah menghina orang tuanya. Dengan cepat dia meloncat kea rah si pemburu itu melepaskan satu pukulan tepat di wajahnya yang sedang tertawa. Buuk! Satu pukulan telak merontokkan gigi si Pemburu Bengis itu.  BOOOm! Satu peluru tepat mengenai kaki kanannya. Kartono terjatuh ke tanah. Tidak ada rasa sakit yang dirasanya. Rasa sakit dalam hati atas kematian kedua orang tuanya lebih menyakitkan dibandingkan yang dirasakan saatnya ini. Dia sekali lagi berdiri dengan kaki pincang.
                “Hebat juga kamu anak bangsat! Tapi sekarang waktunya kematian kamu, kamu lupa ya anak bodoh, aku tahu kamu berusaha melindungi si dungu besar itu. Aku sengaja menyuruh mereka membawamu, setelah itu membunuhmu, dan aku cari lagi dungu itu itu dalam gubuk jelekmu. HAHAHA!! Sekarang kalian semua keluar dan bunuh orang ini! Pastikan dia mati!” Dengan sekali perintah keluar 8 orang lainnya sudah mengkokang senjata  mereka masing-masing. Segera mereka semua mengelilingi Kartono. Kartono hanya pasrah dalam keadaan seperti itu. Rencananya gagal total. Kenangan yang disimpannya ternyata tidak dapat menipu hatinya rindu akan kasih saying kedua orang tuanya. Dia pun tersenyum, akhirnya dia akan bertemu dengan orang tuanya.
                Duuuar!! Terdengar ledakan dari arah yang tidak diketahui dan tiba-tiba si Pemburu Bengis itu meringis kesakitan. Kakinya ternyata terkena peluru. Langsung ke sepuluh orang itu bersembunyi mencari keberadaan orang yang menembak daria rah kegelapan. Dalam kegelapan sekali lagi terdengar bunyi peluru yang dilesakkan dari sebuah senjata yang si Pemburu Bengis itu mengenalinya. Tak lama tergeletak satu orang tewas dengan luka di dada tepat di jantung. Satu orang tewas itu semakin membuat ke-9 yang lainnya khawatir dengan keelamtan nyawanya. Ingin kabur tapi tak mampu. Peluru-peluru itu seakan mempunyai mata dalam kegelapan. Si Pemburu Bengis itu pun bersembunyi pada sebuah batu besar. Si Pemburu Besar itu mencoba menembakkan pistol revolver kesayangannya kea rah Kartono. Dooor! Bunyi itu mengagetkan semua orang dan si Pemburu Bengis itu berteriak sekencang-kencangya. Tangannya terkena peluru. Mengapa bisa? Pertanyaan yang sama megahampiri pikiran semua orang.
                Lalu terdengar 9 tembakan beruntun. Dan ke-9 pemburu tewas dengan luka tepat di dada. Spontan saja si Pemburu Bengis itu ketakutan. Lalu terdengar tawa renyah dari arah kegelapan. Pemburu Bengis itu tahu betul siapa pemilik tawa tersebut. Dugaannya ternyata tepat. Dibawah sinar bulan dengan dipapah oleh Bersih Derick menghampiri pemburu bengis itu. “Akhirnya kamu aku tangkap! Maaf aku membunuh teman-temanmu, karena salah mereka tidak menunjukkan kaki dan tangan mereka untuk aku lumpuhkan.” Kata Derick. Kartono tersenyum. Sekali lagi dia diselamatkan oleh Derick. Lalu tak lama Rapi datang dengan menangis dan memeluk Kartono dari belakang. Dia menangis sesunggukkan. Kartono meminta Rapi membantunya berjalan ke pohon besar. Disitu dia bersandar ditemani Rapi. Dia melihat kearah bulan dan tersenyum seakan orang tuanya melihat dirinya. Rapi pun menyandarkan kepalanya ke pundak Kartono. Tak lama muncul teman-teman Derick. Ternyata selama ini mereka mencari komplotan Pemburu-pemburu ini. Derick sendiri ternyata adalah anggota intel kepolisian yang sudah lama meburu keponakannya itu. Dia menyesal kenapa mendidiknya sebagai pemburu binatang yang akhirnya malah jadi pembunuh. Untuk itulah dia membantu Kartono sebagai maaf atas kesalahannya.
                Tiba-tiba jam di tangan Bersih berbunyi. Ternyata sudah waktunya mereka untuk kembali ke dunia mereka. Rapi tidak ingin kembali ke dunia yang penuh kehampaan. Dia ingin tetap bersama Kartono di sampingnya selamanya. Mau tidak mau Bersih pun meninggalkan mereka dan berpamitan kepada Kartono. “Terima Kasih” Ucap Bersih dengan tersenyum. Akhirnya Bersih membawa satu pesan bahwa aka nada Hutan Hujan di Musim Kemarau. KArtono pun tertidur bersandar bersama Rapi di gubuknya. Bulan pun tersenyum melihat mereka berdua. Bintang-bintang menari berdansa diatas sana.

THE END

0 comments:

Post a Comment