Dalam
kebingungan yang luar biasa Rapi mulai menangis, tapi segera oleh Kartono
dipeluknya dengan hangat. Pelukan ini membuat Rapi diam dengan wajah yang mulai
tersenyum memandangi Kartono. Seperti jauh dalam hatinya ada keinginan untuk
mencium wajah yang tengah memeluknya saat ini. Tiba-tiba terdengar ketukan
keras dari arah luar. Kartono pun segera menyuruh Bersih dan Rapi bersembunyi.
Ketukan semakin keras saja dari luar sana menambah ketegangan di dalam gubuk.
Setelah Bersih dan Rapi bersembunyi, tidak lupa Kartono menyembunyikan Derick.
Sudah
yakin ketiga orang tersebut dalam keadaan aman, Kartono membuka pintu itu
tersebut. Berdiri di hadapannya dua orang pria berperawakan sama seperti si
pemburu yang hampir dibunuh oleh Kartono. Dilihat sorot wajah kedua pemburu itu
memasang wajah sangar. Seketika saja salah satunya menodongkan senjata ke
arahnya. Dalam kondisi tersebut Kartono masih tenang. Dia sudah terbiasa hidup
dalam ketegangan. “Dimana si Pemburu dengan badan besar itu?! Serahkan pada
kami, kalau tidak kamu yang akan kami bawa!” bentak si pemburu yang tidak
menodongkan senjata.
“Bawa
saja aku” Jawab Kartono dengan tenang. Jauh dalam angannya sudah terfikirkan
rencana besar. Akhirnya kedua orang tersebut membawa Kartono pergi. Setelah
Kartono pergi menjauh dibawa kedua orang suruhan itu segera Bersih dan Rapi
keluar dari persembunyiannya. Rapi menangis terisak, sangat menyakitkan
dirasanya menerima kenyataan kehilangan seseorang yang walaupun kita baru
bertemunya untuk sesaat. Karena Pria itu sudah menjadi sosok yang berharga di
matanya. Pria itu sudah mengisi hatinya yang selalu hampa.
Di
sisi lain Bersih bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Haruskah dia
memeluknya seperti yang dilakukan Kartono atau dia harus apa. Sial, pikirnya.
Dalam kondisi seperti ini tidak pernah diajarkan dalam dunia militer. Bahkan
dalam setiap seminar dan pelatihan yang diikutinya tidak ada satupun yang
menjelaskan bagaiman harus bersikap menghadapi sebuah ketegangan, menghadapi
perempan yang menangis dan bagaimana bersikap dalam situasi menyelamatkan seseorang.
Seakan semua yang dilakukannya dalam dunia milter sia-sia saja. Bersih duduk
termenung menerawang jauh.
Cukup
jauh berjalan Kartono dan dua orang itu sampai pada sebuah pohon besar yang dia
sangat mengenali pohon tersebut. Tidak teraa air matanya meleleh dari
sumbernya. Teringat puluhan tahun yang lalu ayah dan ibunya tewas dibunuh di
tempat ini. Seandainya saja waktu itu Derick tidak datang menyelamtkannya tentu
dia ikut bersama ayah dan ibunya. Setelah itu dia meminta untuk hidup dalam
hutan sendirian untuk terus mengenang keluarganya.
Tangisnya
tidak dapat disembunyikan lagi, pikrannya menjadi kacau, sesaat kemudian dia
berlutut tidak mampu lagi menopang kesedihan yang driasakannya. Lalu muncul si
Pemburu bengis itu dengan tawa liciknya dari balik pohon besar tersebut perisi
ketika dia akan membunuh orang tuanya. Dan akhirnya dia sadar dua orang yang
bersama saatnya ini adalah orang yang sama menangkap kedua orang tuanya dahulu.
Rencananya hancur berantakan. Dia tidak mengetahui sama sekali kalau akan
dibawa ke tempat seperti ini. Sekarang dia hanya berharap Bersih dan Rapi dapat
menyelamatkan Derick, orang yang dulu telah mneyelamatkannya.
“Kamu
ingat kan tempat ini, anak bangsat?!” kata makian itu dilontarkan si Pemburu
Bengis itu. Kartono hanya mampu menganggukkan kepalanya. “Sekarang waktu untuk
kamu menyusul kedua orangtuamu! Kamu tahu orang tuamu adalah orang yang bodoh
HAHAHA” tawa liciknya membuat Kartono geram karena sudah menghina orang tuanya.
Dengan cepat dia meloncat kea rah si pemburu itu melepaskan satu pukulan tepat
di wajahnya yang sedang tertawa. Buuk! Satu pukulan telak merontokkan gigi si
Pemburu Bengis itu. BOOOm! Satu peluru
tepat mengenai kaki kanannya. Kartono terjatuh ke tanah. Tidak ada rasa sakit
yang dirasanya. Rasa sakit dalam hati atas kematian kedua orang tuanya lebih
menyakitkan dibandingkan yang dirasakan saatnya ini. Dia sekali lagi berdiri
dengan kaki pincang.
“Hebat
juga kamu anak bangsat! Tapi sekarang waktunya kematian kamu, kamu lupa ya anak
bodoh, aku tahu kamu berusaha melindungi si dungu besar itu. Aku sengaja
menyuruh mereka membawamu, setelah itu membunuhmu, dan aku cari lagi dungu itu
itu dalam gubuk jelekmu. HAHAHA!! Sekarang kalian semua keluar dan bunuh orang
ini! Pastikan dia mati!” Dengan sekali perintah keluar 8 orang lainnya sudah
mengkokang senjata mereka masing-masing.
Segera mereka semua mengelilingi Kartono. Kartono hanya pasrah dalam keadaan
seperti itu. Rencananya gagal total. Kenangan yang disimpannya ternyata tidak
dapat menipu hatinya rindu akan kasih saying kedua orang tuanya. Dia pun
tersenyum, akhirnya dia akan bertemu dengan orang tuanya.
Duuuar!!
Terdengar ledakan dari arah yang tidak diketahui dan tiba-tiba si Pemburu
Bengis itu meringis kesakitan. Kakinya ternyata terkena peluru. Langsung ke
sepuluh orang itu bersembunyi mencari keberadaan orang yang menembak daria rah
kegelapan. Dalam kegelapan sekali lagi terdengar bunyi peluru yang dilesakkan
dari sebuah senjata yang si Pemburu Bengis itu mengenalinya. Tak lama
tergeletak satu orang tewas dengan luka di dada tepat di jantung. Satu orang
tewas itu semakin membuat ke-9 yang lainnya khawatir dengan keelamtan nyawanya.
Ingin kabur tapi tak mampu. Peluru-peluru itu seakan mempunyai mata dalam
kegelapan. Si Pemburu Bengis itu pun bersembunyi pada sebuah batu besar. Si
Pemburu Besar itu mencoba menembakkan pistol revolver kesayangannya kea rah Kartono.
Dooor! Bunyi itu mengagetkan semua orang dan si Pemburu Bengis itu berteriak
sekencang-kencangya. Tangannya terkena peluru. Mengapa bisa? Pertanyaan yang
sama megahampiri pikiran semua orang.
Lalu
terdengar 9 tembakan beruntun. Dan ke-9 pemburu tewas dengan luka tepat di
dada. Spontan saja si Pemburu Bengis itu ketakutan. Lalu terdengar tawa renyah
dari arah kegelapan. Pemburu Bengis itu tahu betul siapa pemilik tawa tersebut.
Dugaannya ternyata tepat. Dibawah sinar bulan dengan dipapah oleh Bersih Derick
menghampiri pemburu bengis itu. “Akhirnya kamu aku tangkap! Maaf aku membunuh
teman-temanmu, karena salah mereka tidak menunjukkan kaki dan tangan mereka
untuk aku lumpuhkan.” Kata Derick. Kartono tersenyum. Sekali lagi dia diselamatkan
oleh Derick. Lalu tak lama Rapi datang dengan menangis dan memeluk Kartono dari
belakang. Dia menangis sesunggukkan. Kartono meminta Rapi membantunya berjalan ke
pohon besar. Disitu dia bersandar ditemani Rapi. Dia melihat kearah bulan dan
tersenyum seakan orang tuanya melihat dirinya. Rapi pun menyandarkan kepalanya
ke pundak Kartono. Tak lama muncul teman-teman Derick. Ternyata selama ini
mereka mencari komplotan Pemburu-pemburu ini. Derick sendiri ternyata adalah
anggota intel kepolisian yang sudah lama meburu keponakannya itu. Dia menyesal
kenapa mendidiknya sebagai pemburu binatang yang akhirnya malah jadi pembunuh.
Untuk itulah dia membantu Kartono sebagai maaf atas kesalahannya.
Tiba-tiba
jam di tangan Bersih berbunyi. Ternyata sudah waktunya mereka untuk kembali ke
dunia mereka. Rapi tidak ingin kembali ke dunia yang penuh kehampaan. Dia ingin
tetap bersama Kartono di sampingnya selamanya. Mau tidak mau Bersih pun
meninggalkan mereka dan berpamitan kepada Kartono. “Terima Kasih” Ucap Bersih
dengan tersenyum. Akhirnya Bersih membawa satu pesan bahwa aka nada Hutan Hujan
di Musim Kemarau. KArtono pun tertidur bersandar bersama Rapi di gubuknya.
Bulan pun tersenyum melihat mereka berdua. Bintang-bintang menari berdansa
diatas sana.
THE END

0 comments:
Post a Comment