Thursday, July 28, 2016


Setelah kejadian tersebut, Ahmad dan Shinta menjadi dekat. Waktu seakan berjalan cepat, tak terasa sudah 1 tahun kedekatan mereka menjadi canda diantara teman-teman mereka. Kesibukan diantara keduanya pun tak menjadi alasan bagi mereka berdua untuk meluangkan waktu bersama, sekedar makan malam, makan siang ataupun jalan-jalan berbincang di taman. Namun, kedekatan mereka tak pernah terikat dengan sebuah status spesial apapun. Pacaran, tunangan, sahabat, tidak ada dalam hubungan mereka dalam menjalani hubungan. Setiap teman bertanya pada Ahmad tentang statusnya dengan Shinta, dia hanya menjawab sebagai teman. Begitu juga Shinta, ketika ditanya oleh banyak sahabatnya, ataupun ketika beberapa teman lelakinya yang mencoba mendekati dia sering bertanya hubungan sebenernya diantara dia dengan Ahmad. Jawaban yang terlontar pun,”kita Cuma teman kok” ditambah dengan senyum bahagia. Hal itu menjaid sebuah tanda tanya besar diantara mereka. Mereka berdua sendiri tak pernah mau menjalani status diantara mereka berdua, mereka takut untuk kehilangan, mereka takut untuk menyakiti, mereka takut untuk berpisah.
Hingga akhirnya suatu kejadian besar datang. Ahmad diantara pilihan harus melanjutkan studinya ke Jerman atau tetap di Indonesia. Tentu dalam pikirannya studi di Jerman adalah langkah besar dalam karirnya sebagia seorang dokter. Namun, di sisi lain dia tak ingin berpisah dengan Shinta walaupun itu hanya satu hari. Baginya saat ini, dia sangat mencintai Shinta. Sosok Angelina sering hadir dalam diri Shinta. Shinta juga menghadapi hal yang sama, dia mengharuskan dirinya mengambil kerja lebih baik di kota lain.
Akhirnya, keduanya memberanikan diri tentang keadaan mereka masing-masing. “Tenang aja, kita kan masih bisa telpon nantinya, yang penting diantara kita ada komunikasi.” terang Shinta kepada Ahmad mencoba mencairkan susasana. “Toh kita kan ga ada hubungan apa-apa tho? Tentu lah ga ada yang tersakiti diantara kita, aneh juga ya kenapa kita harus bersedih ketika kita harus pergi” balas Ahmad. Di hatinya, Shinta merasa teriris, benar memang tidak ada hubungan apapun, tapi cinta yang dimilikinya begitu dalam, ingin rasanya menangis saat itu, namun, dia harus merelakan jika ternyata Ahmad menemukan cinta sesungguhnya di Jerman nanti. Dengan senyum keikhlasan,”iya mad, kamu bener banget, yaudah yok kita pulang, persiapan buat besok, aku dah harus berangkat soalnya besok.”
Ahmad dalam hatinya tersentak, tak dinyana Shinta menjawab seperti itu. Dia hanya berpikir Shinta akan sedih jika ia berbicara seperti itu, kenyataan yang terjadi sebaliknya. Dia ingin menangis dalam kesedihan yang sangat mendalam. Sekali lagi dia harus kehilangan seseorang yang sudah sangat dicintainya. Sekali lagi karena sebuah keadaan harus merasakan rasa sakit. Sisi baiknya dia masih bisa menjalani sebuah komunikasi dengan Shinta. Dia pun hanya menjawab ajakan pulang dari Shinta dengan senyuman.
Selama perjalanan pulang mereka hanya diam seribu bahasa tak mampu berkata-kata. Mereka terfokus menahan rasa sakit hati masing-masing harus berpisah. Akhirnya, mereka hanya mampu berucap kata perpisahan dan ucapan semoga sukses. Di kamar masing-masing mereka tak mampu membendung lagi kesedihan yang mereka rasakan. Sepanjang malam mereka mengenang semua hal yang telah terjadi diantara mereka berdua.
Di pagi hari, Shinta mengantar kepergian Ahmad di bandara. Kesedihan dan kebahagiaan selalu bersaing dalam kehidupan seseorang. Tak pernah ada kebahagiaan yang abadi. Tak pernah ada ukuran sebuah cinta. Keabadian cinta di dunia hanya semu belaka. Perpisahan akan menjadi tanda sebuah cinta yang lain akan datang. Hanya siapkah kita menerima kenyataan itu. Hanya waktu dan kesabaran yang bisa menjawab setiap ujian cinta yang datang. Termasuk bagi Shinta dan Ahmad.
[The End]

0 comments:

Post a Comment