Lama berbincang tanpa mereka sadari malam sudah hamper tiba. Kartono pun mengajak mereka untuk tidur di rumahnya. Kartono menceritakan rumahnya tidak seindah rumah-rumah mereka. Rumahnya sangat sederhana karena hanya beralaskan tanah, beratapkan daun-daun kering, dan tembok yang hanya terbuat dari anyaman bambu. Bersih dan Rapi pun menyetujui usulan Kartono, ya kalaupun menolak mereka akan tidur dimana itu akan menjadi masalah esar bagi mereka. Setidaknya dengan Kartono mereka berdua bisa mencari tahu kebudayaan manusia pada zaman itu jadinya mereka tidak terlihat mencolok.
Dalam
perjalanan Kartono terus bercerita tentang kehidupan manusia di zamannya.
Kehidupan manusia yang sangat rakus, begitu kata Kartono dengan nada keras dan
jengkel. Bersih dan Rapi dalam pikiran mereka mulai menyadari alasan manusia di
masa depannya sangat sulit berkomunikasi satu sama lain. Kehidupan manusia juga
saling tipu menipu, lanjut Kartono dengan wajah sedih. Bersih dan Rapi menatap
Kartono dengan rasa ingin tahu. Mereka baru pertama kali melihat mimik wajah
seperti itu. Mimik wajah tidak ada dalam pengajaran tata bertingkah laku. Mimik
wajah akan membuat kalian terlihat bodoh dan sangat tidak berguna, begitu kata
guru mereka setiap menjelaskan masalah mimik wajah. Ternyata apa yang diajarkan
adalah kesalahan besar. Setiap menjelaskan sesuatu wajah Kartono selalu
berubah-ubah mimiknya. Dan Bersih dan Rapi pun menjadi tertarik dengan apa yang
diobrolkan, padahal selama ini mereka hanya membocarakan hal yang penting saja.
“Kalian
lihat hutan-hutan disini masih hijau, burung masih bisa bernyanyi, macan masih
terlihat mengejar babi, tapi entah sampai kapan bisa bertahan hutan ini”
kata-kata ini diucapkan Kartono dengan wajah yang sangat sedih seakan akan
ingin menangis saja. Bersih dan Rapi terdiam membisu tak tahu harus berbuat
apa, jangankan untuk berbuat sesuatu, mereka pun bingung harus berkata apa
menghadapi situasi seperti ini. Akibatnya mereka melanjutkan perjalanan dalam
keadaan diam seribu bahasa dengan hati yang berbeda-beda diantara mereka. Hati
Bersih semakin penasaran dengan kehidupan manusia di era tersebut, jika dia
mampu menyerap semua ilmu kehidupan yang ada kemudian dia bawa di eranya itu
akan membuatnya menjadi ilmuwan terhebat. Hati Rapi semakin tertarik dengan
Kartono. Pemuda yang baru ditemuinya tersebut entah mengapa membuat hatinya
aneh berdetak tidak beraturan. Selama ini bertemu dengan laki-laki dia selalu
biasa saja, orang tuanya, gurunya, temannya, apalagi kakaknya tidak pernah
mengajari dirinya itu menghadapi seseorang yang belainan jenis. Tidak ada
pelajaran tentang isi hati, yang ada ajaran kalau sudah tepat umur untuk
berkeluarga tinggal datang ke toko kemudian memilih foto dan tinggal tunggu
tanggal untuk berkeluarga.
Sedangkan
Hati Kartono berkecamuk tidak tentu arah. Genderang perang yang tidak berirama
seprti itulah detak jantung Kartono. Risau, resah dan ragu seperti apa akan
nasib alam ini. Dari kecil hingga tumbuh menjadi seorang pemuda kekar walau
wajah pas-pasan selalu berada di hutan ini. Kedua orangtuanya sudah lama pergi ke
alam lain karena melindungi hutan ini dari para pemburu. Di depan mata Kartono
kedua orang tuanya tewas ditembak di kepala. Kartono pun berjanji akan berusaha
melindungi hutan ini dari siapapun sampai tetes darah terakhir yang tumpah
utnuk melindungi hutan ini.
Di
dalam rumah sederhananya, segera Kartono menyiapkan makanan untuk Bersih dan
Rapi. Ketika memasak Bersih dan Rapi dengan rasa ingin tahu yang kuat
mendatangi tempat memasak Kartono. Aneh, kata yang terlontar dari dalam mulut
Bersih. Rapi hanya diam memandang dalam wajah Kartono yang sedang memasak.
Kartono yang menyadari keberadaan mereka berdua hanya tersenyum dan bercerita
dia ini termasuk orang yang masih sangat kuno memasak dengan menggunakan kayu
bakar dan tungku dari tanah liat. Kalau orang-orang di zamannya yang
sesungguhnya memasak menggunakan kompor gas dan wajan. Sudah dijelaskan masih
saja Bersih dan Rapi tidak mengerti, maklum mereka makan hanya menggunakan pil
yang berisi zat-zat ekstrak yang diciptakan untuk mengenyangkan perut manusia.
Tidak ada rasa tidak ada bentuk makanan. Ketika sudah matang mereka heran
dengan bentuk makanannya. Ketika memakan, Bersih dan Rapi merasakan kenikmatan
yang luar biasa pada lidah mereka.
Di
sela acara makan, Kartono bercerita, manusia rakus karena menginginkan segalany
untuk dicapai tanpa peduli orang lain.
Bagi manusia seperti teknologi adalah jalan-jalan satunya untuk selamat
dari kepunahan. Manusia semakin menciptakan alat untuk mempermudah hidup
mereka. Tapi bagi Kartono, itu adalah hal yang justru membuat diri manusia itu
sendiri menuju kepunahan. Bagaimana tidak, demi mempermudah transportasi,
manusia merelakan ribuan hektar hutan dibabat habis. Demi mempermudah teknologi
komunikasi, manusia merelakan bumi ini digali sedalam-dalamnya dan rela lautnya
tercemar kotoran hasil galian. Demi kebutuhan kepuasan lidah, manusia rela
membunuh habis binatang-binatang yang harusnya tidak dimakan, padahal porsinya
jelas tidak mampu mencukupi isi perut mereka, tapi mereka tidak peduli.
Bersih
dan Rapi sudah menyelesaikan makannya. Kartono pun menawarkan mereka berdua
untuk mandi. Bersih dan Rapi menganggukkan kepala tanda menyetujui usul Kartono.
Mereka lupa cara madni Kartono dan mereka itu berbeda. Mereka kaget ternyata
Kartono mengajak ke tempat air yang mengalir dengan tenangnya dan terlihat
menyejukkan melihatnya. Inikah namanya sungai, pertanyaan itu keluar dalam hati
mereka berdau takjub melihat di depan mata mereka sungai yang sesungguhnya.
Dalam kekaguman Bersih dan Rapi, mereka dikejutkan bunyi seperti ledakan yang
ternyata itu bunyi benturan Kartono dengan air sungai. “Ayo buruan nyemplung!”
ajak Kartono.
Bersih
dan Rapi awalnya ragu akhirnya memberanikan diri ikut menceburkan diri. Seperti
anak kecil ketemu air, itulah tingkah Bersih dan Rapi. Kartono hanya
memperhatikan tingkah Bersih dan Rapi dari pinggir sungai. Rasanya seperti ingin
mempunyai adik dan kakak. Tidak pernah dirinya merasakan kehangatan mempunyai
keluarga lagi setelah sekian tahun hidup dalam kesendirian. Masih teringat
bagaimana ayah dan ibuya pertama kali mengajak dirinya tinggal dalam hutan.
Kartono kecil kala itu sangat membenci kehidupan alam liar dan terbiasa hidup
di dalam perkotaaan yang serba modern. Di kesenangannya sebagai anak kecil
dalam era kala itu ternyata kedua orangtuanya sangat menginginkan kehidupan
alami, pusing dengan kehidupan kota yang saling bunuh membunuh, tipu menipu.
Memang semuanya serba mudah tapi hati sulit untuk menjadi damai. Akhirnya kedua
orang tuanya memtuskan untuk melarikan diri dari semuanya. Harta mereka dijual
semua dan uangnya disumbangkan dengan menyisakan sebagian uang untuk membeli
persediaan bagi mereka. Kartono dalam hatinya kala itu tidak tahu apa yan sdang
dilakukan kedua orang tuanya. Hanya mereka ingin mengajaknya pergi jalan-jalan
ke dalam hutan.
Ketika
kehidupan di alam liar dimulai Kartono kecil lebih sering protes tidak ini,
tidak itu, tidak semua peralatan anggih yang biasa idpakai. Makan pun harus
menunggu lama, baju yang dipakai seminggu sekali baru ganti, mandi ahrus di
sungai menggunakan batu sebagai sabun, dan banyak hal lainnya. Tapi lama
kelamaan hal tersebut menjadi sesuatu yang mengasyikkan bagi Kartono. Sayangnya
di kala Kartono mulai menikmati kehidupan tersebut orang tuanya harus pergi
jauh meninggalkannya akibat ulah para pemburu biadab dari kota. Lamunannya
tiba-tiba buyar kala Rapi mengajaknya ikut ebrmain dengannya.
Bersambung…

0 comments:
Post a Comment