Tuesday, May 26, 2015

                

                     Lama berbincang tanpa mereka sadari malam sudah hamper tiba. Kartono pun mengajak mereka untuk tidur di rumahnya. Kartono menceritakan rumahnya tidak seindah rumah-rumah mereka. Rumahnya sangat sederhana karena hanya beralaskan tanah, beratapkan daun-daun kering, dan tembok yang hanya terbuat dari anyaman bambu. Bersih dan Rapi pun menyetujui usulan Kartono, ya kalaupun menolak mereka akan tidur dimana itu akan menjadi masalah esar bagi mereka. Setidaknya dengan Kartono mereka berdua bisa mencari tahu kebudayaan manusia pada zaman itu jadinya mereka tidak terlihat mencolok.
                Dalam perjalanan Kartono terus bercerita tentang kehidupan manusia di zamannya. Kehidupan manusia yang sangat rakus, begitu kata Kartono dengan nada keras dan jengkel. Bersih dan Rapi dalam pikiran mereka mulai menyadari alasan manusia di masa depannya sangat sulit berkomunikasi satu sama lain. Kehidupan manusia juga saling tipu menipu, lanjut Kartono dengan wajah sedih. Bersih dan Rapi menatap Kartono dengan rasa ingin tahu. Mereka baru pertama kali melihat mimik wajah seperti itu. Mimik wajah tidak ada dalam pengajaran tata bertingkah laku. Mimik wajah akan membuat kalian terlihat bodoh dan sangat tidak berguna, begitu kata guru mereka setiap menjelaskan masalah mimik wajah. Ternyata apa yang diajarkan adalah kesalahan besar. Setiap menjelaskan sesuatu wajah Kartono selalu berubah-ubah mimiknya. Dan Bersih dan Rapi pun menjadi tertarik dengan apa yang diobrolkan, padahal selama ini mereka hanya membocarakan hal yang penting saja.
                “Kalian lihat hutan-hutan disini masih hijau, burung masih bisa bernyanyi, macan masih terlihat mengejar babi, tapi entah sampai kapan bisa bertahan hutan ini” kata-kata ini diucapkan Kartono dengan wajah yang sangat sedih seakan akan ingin menangis saja. Bersih dan Rapi terdiam membisu tak tahu harus berbuat apa, jangankan untuk berbuat sesuatu, mereka pun bingung harus berkata apa menghadapi situasi seperti ini. Akibatnya mereka melanjutkan perjalanan dalam keadaan diam seribu bahasa dengan hati yang berbeda-beda diantara mereka. Hati Bersih semakin penasaran dengan kehidupan manusia di era tersebut, jika dia mampu menyerap semua ilmu kehidupan yang ada kemudian dia bawa di eranya itu akan membuatnya menjadi ilmuwan terhebat. Hati Rapi semakin tertarik dengan Kartono. Pemuda yang baru ditemuinya tersebut entah mengapa membuat hatinya aneh berdetak tidak beraturan. Selama ini bertemu dengan laki-laki dia selalu biasa saja, orang tuanya, gurunya, temannya, apalagi kakaknya tidak pernah mengajari dirinya itu menghadapi seseorang yang belainan jenis. Tidak ada pelajaran tentang isi hati, yang ada ajaran kalau sudah tepat umur untuk berkeluarga tinggal datang ke toko kemudian memilih foto dan tinggal tunggu tanggal untuk berkeluarga.
                Sedangkan Hati Kartono berkecamuk tidak tentu arah. Genderang perang yang tidak berirama seprti itulah detak jantung Kartono. Risau, resah dan ragu seperti apa akan nasib alam ini. Dari kecil hingga tumbuh menjadi seorang pemuda kekar walau wajah pas-pasan selalu berada di hutan ini. Kedua orangtuanya sudah lama pergi ke alam lain karena melindungi hutan ini dari para pemburu. Di depan mata Kartono kedua orang tuanya tewas ditembak di kepala. Kartono pun berjanji akan berusaha melindungi hutan ini dari siapapun sampai tetes darah terakhir yang tumpah utnuk melindungi hutan ini.
                Di dalam rumah sederhananya, segera Kartono menyiapkan makanan untuk Bersih dan Rapi. Ketika memasak Bersih dan Rapi dengan rasa ingin tahu yang kuat mendatangi tempat memasak Kartono. Aneh, kata yang terlontar dari dalam mulut Bersih. Rapi hanya diam memandang dalam wajah Kartono yang sedang memasak. Kartono yang menyadari keberadaan mereka berdua hanya tersenyum dan bercerita dia ini termasuk orang yang masih sangat kuno memasak dengan menggunakan kayu bakar dan tungku dari tanah liat. Kalau orang-orang di zamannya yang sesungguhnya memasak menggunakan kompor gas dan wajan. Sudah dijelaskan masih saja Bersih dan Rapi tidak mengerti, maklum mereka makan hanya menggunakan pil yang berisi zat-zat ekstrak yang diciptakan untuk mengenyangkan perut manusia. Tidak ada rasa tidak ada bentuk makanan. Ketika sudah matang mereka heran dengan bentuk makanannya. Ketika memakan, Bersih dan Rapi merasakan kenikmatan yang luar biasa pada lidah mereka.
                Di sela acara makan, Kartono bercerita, manusia rakus karena menginginkan segalany untuk dicapai tanpa peduli orang lain.  Bagi manusia seperti teknologi adalah jalan-jalan satunya untuk selamat dari kepunahan. Manusia semakin menciptakan alat untuk mempermudah hidup mereka. Tapi bagi Kartono, itu adalah hal yang justru membuat diri manusia itu sendiri menuju kepunahan. Bagaimana tidak, demi mempermudah transportasi, manusia merelakan ribuan hektar hutan dibabat habis. Demi mempermudah teknologi komunikasi, manusia merelakan bumi ini digali sedalam-dalamnya dan rela lautnya tercemar kotoran hasil galian. Demi kebutuhan kepuasan lidah, manusia rela membunuh habis binatang-binatang yang harusnya tidak dimakan, padahal porsinya jelas tidak mampu mencukupi isi perut mereka, tapi mereka tidak peduli.
                Bersih dan Rapi sudah menyelesaikan makannya. Kartono pun menawarkan mereka berdua untuk mandi. Bersih dan Rapi menganggukkan kepala tanda menyetujui usul Kartono. Mereka lupa cara madni Kartono dan mereka itu berbeda. Mereka kaget ternyata Kartono mengajak ke tempat air yang mengalir dengan tenangnya dan terlihat menyejukkan melihatnya. Inikah namanya sungai, pertanyaan itu keluar dalam hati mereka berdau takjub melihat di depan mata mereka sungai yang sesungguhnya. Dalam kekaguman Bersih dan Rapi, mereka dikejutkan bunyi seperti ledakan yang ternyata itu bunyi benturan Kartono dengan air sungai. “Ayo buruan nyemplung!” ajak Kartono.
                Bersih dan Rapi awalnya ragu akhirnya memberanikan diri ikut menceburkan diri. Seperti anak kecil ketemu air, itulah tingkah Bersih dan Rapi. Kartono hanya memperhatikan tingkah Bersih dan Rapi dari pinggir sungai. Rasanya seperti ingin mempunyai adik dan kakak. Tidak pernah dirinya merasakan kehangatan mempunyai keluarga lagi setelah sekian tahun hidup dalam kesendirian. Masih teringat bagaimana ayah dan ibuya pertama kali mengajak dirinya tinggal dalam hutan. Kartono kecil kala itu sangat membenci kehidupan alam liar dan terbiasa hidup di dalam perkotaaan yang serba modern. Di kesenangannya sebagai anak kecil dalam era kala itu ternyata kedua orangtuanya sangat menginginkan kehidupan alami, pusing dengan kehidupan kota yang saling bunuh membunuh, tipu menipu. Memang semuanya serba mudah tapi hati sulit untuk menjadi damai. Akhirnya kedua orang tuanya memtuskan untuk melarikan diri dari semuanya. Harta mereka dijual semua dan uangnya disumbangkan dengan menyisakan sebagian uang untuk membeli persediaan bagi mereka. Kartono dalam hatinya kala itu tidak tahu apa yan sdang dilakukan kedua orang tuanya. Hanya mereka ingin mengajaknya pergi jalan-jalan ke dalam hutan.
                Ketika kehidupan di alam liar dimulai Kartono kecil lebih sering protes tidak ini, tidak itu, tidak semua peralatan anggih yang biasa idpakai. Makan pun harus menunggu lama, baju yang dipakai seminggu sekali baru ganti, mandi ahrus di sungai menggunakan batu sebagai sabun, dan banyak hal lainnya. Tapi lama kelamaan hal tersebut menjadi sesuatu yang mengasyikkan bagi Kartono. Sayangnya di kala Kartono mulai menikmati kehidupan tersebut orang tuanya harus pergi jauh meninggalkannya akibat ulah para pemburu biadab dari kota. Lamunannya tiba-tiba buyar kala Rapi mengajaknya ikut ebrmain dengannya.
Bersambung…   

0 comments:

Post a Comment