Friday, May 29, 2015

           

         
             Sore sudah mulai berganti senja, Kartono mengajak Bersih dan Rapi utnuk segera pulang. Setelah membersihkan diri mereka bergegas pulang sebelum malam benar-benar datang menghampiri. Kartono bukannya takut dengan binatang buas yang akan tiba-tiba menyerang, tapi kedatangan para pemburu liar pengecut yang akan tiba-tiba menyerang. Bagi Kartono binatang liar lebih manusiawi dibandingkan para pemburu. Para pemburu itu tidak hanya berburu hewan liar tidak bersalah untuk diambil keuntungannya. Ketika ternyata tidak mendapatkan hasil apa-apa akhirnya pemburu itu memburu manusia untuk dijual dagingnya, karena Kartono sempat mendengar kabar burung dari para penjelajah hutan yang melewati gubuknya berbincang mengenai penjualan daging manusia yang mulai marak di era ini. Gila, pikirnya ketika itu. Akhirnya semenjak mendengar berita itu Kartono mulai berhati-hati ketika malam datang.

            Ternyata hal yang tidak diinginkan justru terjadi. Tiba-tiba di hadapan mereka terlihat dua orang sedang berlari diujung pandangan mereka. Dengan sigap Kartono mengajak bersembunyi Bersih dan Rapi. Mereka berdua awalnya sedang asyik berbincang membicarakan pengalaman pertama mereka bermain air di sungai. Mereka terkejut kala Kartono menarik diri mereka berdua sembunyi di semak-semak yang cukup lebat. Dalam kebingungan, Bersih hendak menanyakan apa yang sedang terjadi, tetapi Kartono seakan-akan mengerti pikiran Bersih dan Rapi segera menyuruh diam mereka berdua dengan isyarat telunjuk di mulut lalu menunjuk ke arah pohon besar yang ternyata saat itu seorang pemburu berbadan besar dalam keadaan bersandar di pohon dengan luka tembak di kaki dan perutnya. Sedang pemburu satunya berdiri di hadapan pemburu besar itu dan memegang sesuatu seperti pisau.
           
            Dalam kengerian sekaligus ketegangan luar biasa melanda Bersih dan Rapi. Ini adalah kejadian seperti dalam film horror yang biasa mereka tonton, memang di zaman mereka itu menonton film seperti berada dalam kejadian yang difilmkan. Namun, tetap saja kali ini berbeda, muka para pelaku dengan wajah dan tingkah yang benar-benar alami dan serius tanpa ada sutradara dan pengarah gaya mengatur gerakan mereka, sedangkan dalam film para pemain tidak ada mimik wajah dan sama sekali tidak ada gerakan yang istimewa sehingga sangat terlihat sekali itu adalah kejadian yang sudah diatur. Bersih dan Rapi kala itu sangat berharap semoga ada sutradara di sekitar situ dan crew film yang merekam kejadian tersebut, sayangnya mereka sadar itu hanyalha harapan yang tidak akan terkabul. Waktu seperti berjalan sangat lambat mereka rasakan semakin membuat suasana semakin menegangkan.

            Si Pemburu Besar itu sudah pasrah menerima kedatangan kematiannya yang lebih cepat. Di hadapannya sudah berdiri manusia bengis yang sudah terbiasa membunuh manusia dan menjual dagingnya. Baginya membunuh adalah hal biasa yang harus dilakukan untuk menyambung hidup. Si Pemburu Bengis itu berada di hutan tersebut bukan untuk memburu hewan. Haluan buruannya berubah semenjak dia membunuh untuk pertama kalinya. Sensasi membunuh pertama kalinya itu semakin membuatnya ingin membunuh manusia lagi. Bahkan terkadang salah satu korbannya, kepalanya dia buat jadi hiasan di rumahnya. Apalagi korban pertamanya adalah sepasang suami istri dengan seorang anak mereka yang sayangnya dia gagal untuk membunuhnya. Seiring berjalannya waktu, dia mulai menyadari hewan buruan semakin sedikit dengan semakin bertambahnya pemburu yang berkeliaran dalam hutan. Pernah dia dalam sehari bertemu 20 orang pemburu. Melihat kondisi tersebut akhirnya membulatkan tekadnya untuk membunuh manusia-manusia itu.

            Di sisi lain sang pemburu besar itu mengingat istrinya yang sedang hamil tua. Padahal itu adalah anak pertamanya. Si Pemburu Besar itu berharap anaknya itu bisa menjadi anak yang selalu membantu ibunya sebagai satu-satunya orang tua yang mengasuhnya, bisa menjadi anak yang kuat dan perkasa serta bisa membantu orang yang membutuhkan. Si Pemburu Besar itu menyesal tidak mengikuti saran teman-temannya untuk pulang sebelum senja. Padahal teman-temannya sudah menyarankan untuk segera pulang karena malam sudah mulai datang. Tapi dirinya punya prinsip untuk tidak pulang sebelum dia bisa mendapatkan hewan buruan yang diincarnya. Dirinya sempat melihat tanda-tanda kehidupan macan pohon ketika dia berburu bersama teman-temannya. Di saat konsentrasinya mengintai tiba-tiba terdengar suara bunyi tembakan, baru saja menengok perutnya terasa sakit. Ternyata perutnya terkena tembakan peluru timah, dia pun langsung mencari arah sumber tembakan dengan tangan memegangi perutnya menahan rasa sakit. Di ujung kejauhan dia lihat sosok manusia menodongkan senjata ke arah dirinya. Tanpa pikir panjang pun dia segera melarikan diri sambil menahan sakit.
           
            Dia berusaha sekuat tenaga menghindari kejaran sosok tersebut. Nahas, satu tembakan dilepas dari sosok tersebut dan tepat mengenai kakinya. Seketika langsung Si Pemburu Besar terjatuh terjerembab kesakitan. Dia berusaha sekuat tenaga untuk bangkit tapi tidak berhasil, dalam usaha kesekian kalinya tetap saja tidak berhasil, badannya terlalu besar untuk ditopang satu kaki saja. Akhirnya dia menyerah dan berusaha bersandar di pohon besar yang ada di dekatnya. Dari kejauhan terdengar suara tawa yang sepertinya dia kenal. Si pemburu besar itu memejamkan matanya untuk menutupi sakit yang dideritanya. Saat itu terdengar langkah kaki tepat berhenti di depannya. Si Pemburu Besar mulai membuka matanya. Dia pun memperhatikan sepatu yang dipakai sosok ini, sepertinya aku mengenalnya, katanya dalam hati, lalu celananya terdapat tambal di daerah lutut, sepertinya dia kenal apa yang terjadi pada celana itu, lalu bajunya dia juga jelas tahu betul, sejauh ini 85% dia mengenal siapa sosok seungguhnya yang mengejar dan berniat membunuhnya. Terakhir dia menengadahkan wajahnya utnuk melihat wajah sosok yang berdiri di depannya. “DEAN!!” teriak Si Pemburu Besar. “Teganya dirimu melakukan ini padaku, kamu tahu kan kakakmu akan melahirkan dan saat ini menungguku di sampingnya” jelas Si Pemburu Besar.

            “Diam kamu! Hahaha” balas Dean nama si pemburu bengis itu yang ternyata adalah adik iparnya. “Aku tidak mengenalmu! Yang pasti kamu akan MATI!” teriak Dean di depan wajah si pemburu besar. Si Pemburu Besar itu akhirnya pasrah mendengar kata-kata itu. Dia sudah tidak mampu berbuat apa-apa dan bersiap menghadapi kenyataan dia akan mati. Namun di saat Dean sudah siap mengayunkan pisau ke arah dadanya, BUUK!! Tepat kepala belakang Dean dipukul oleh seseorang dengan benda keras. Ternyata itu adalah Kartono yang tiba-tiba berlari kencang dari tempat persembunyiannya membawa kayu besar di sekita semak lalu memukul Dean. Seketika Dean jatuh terhuyung ke tanah. Tanpa membuang waktu segera Dean mengambl pistol yang ada di saku Dean. “Eh bajingan! Kamu ingat aku kan?!” kata Kartono berusaha mengingatkan kepada Dean. Sayang Dean hanya mampu terdiam membisu memegang kepalanya. Hampir saja Dean mati tertembak, saat itu terdengar bunyi beberapa orang teriak memanggil nama Dean. Khawatir akan keselamatannya dia pun memukul sekali lagi Dean dengan pistol itu hingga Dean pun pingsan. Kartono segera memanggil Bersih dengan isyarat agar tidak terdengar orang yang mencari Dean untuk membantunya menolong si Pemburu Besar. Dengan susah payah akhirnya mereka berhasil sampai di gubuk tua Kartono. Dan si Pemburu Besar mulai bercerita tentang siapa dia dan siapa orang yang memburunya.

bersambung


            

0 comments:

Post a Comment