Sore sudah mulai berganti senja,
Kartono mengajak Bersih dan Rapi utnuk segera pulang. Setelah membersihkan diri
mereka bergegas pulang sebelum malam benar-benar datang menghampiri. Kartono
bukannya takut dengan binatang buas yang akan tiba-tiba menyerang, tapi
kedatangan para pemburu liar pengecut yang akan tiba-tiba menyerang. Bagi
Kartono binatang liar lebih manusiawi dibandingkan para pemburu. Para pemburu
itu tidak hanya berburu hewan liar tidak bersalah untuk diambil keuntungannya.
Ketika ternyata tidak mendapatkan hasil apa-apa akhirnya pemburu itu memburu
manusia untuk dijual dagingnya, karena Kartono sempat mendengar kabar burung
dari para penjelajah hutan yang melewati gubuknya berbincang mengenai penjualan
daging manusia yang mulai marak di era ini. Gila, pikirnya ketika itu. Akhirnya
semenjak mendengar berita itu Kartono mulai berhati-hati ketika malam datang.
Ternyata hal yang tidak diinginkan
justru terjadi. Tiba-tiba di hadapan mereka terlihat dua orang sedang berlari
diujung pandangan mereka. Dengan sigap Kartono mengajak bersembunyi Bersih dan
Rapi. Mereka berdua awalnya sedang asyik berbincang membicarakan pengalaman
pertama mereka bermain air di sungai. Mereka terkejut kala Kartono menarik diri
mereka berdua sembunyi di semak-semak yang cukup lebat. Dalam kebingungan,
Bersih hendak menanyakan apa yang sedang terjadi, tetapi Kartono seakan-akan
mengerti pikiran Bersih dan Rapi segera menyuruh diam mereka berdua dengan isyarat
telunjuk di mulut lalu menunjuk ke arah pohon besar yang ternyata saat itu
seorang pemburu berbadan besar dalam keadaan bersandar di pohon dengan luka
tembak di kaki dan perutnya. Sedang pemburu satunya berdiri di hadapan pemburu
besar itu dan memegang sesuatu seperti pisau.
Dalam kengerian sekaligus ketegangan
luar biasa melanda Bersih dan Rapi. Ini adalah kejadian seperti dalam film
horror yang biasa mereka tonton, memang di zaman mereka itu menonton film
seperti berada dalam kejadian yang difilmkan. Namun, tetap saja kali ini
berbeda, muka para pelaku dengan wajah dan tingkah yang benar-benar alami dan
serius tanpa ada sutradara dan pengarah gaya mengatur gerakan mereka, sedangkan
dalam film para pemain tidak ada mimik wajah dan sama sekali tidak ada gerakan
yang istimewa sehingga sangat terlihat sekali itu adalah kejadian yang sudah
diatur. Bersih dan Rapi kala itu sangat berharap semoga ada sutradara di
sekitar situ dan crew film yang merekam kejadian tersebut, sayangnya mereka
sadar itu hanyalha harapan yang tidak akan terkabul. Waktu seperti berjalan
sangat lambat mereka rasakan semakin membuat suasana semakin menegangkan.
Si Pemburu Besar itu sudah pasrah
menerima kedatangan kematiannya yang lebih cepat. Di hadapannya sudah berdiri
manusia bengis yang sudah terbiasa membunuh manusia dan menjual dagingnya.
Baginya membunuh adalah hal biasa yang harus dilakukan untuk menyambung hidup.
Si Pemburu Bengis itu berada di hutan tersebut bukan untuk memburu hewan.
Haluan buruannya berubah semenjak dia membunuh untuk pertama kalinya. Sensasi
membunuh pertama kalinya itu semakin membuatnya ingin membunuh manusia lagi.
Bahkan terkadang salah satu korbannya, kepalanya dia buat jadi hiasan di
rumahnya. Apalagi korban pertamanya adalah sepasang suami istri dengan seorang
anak mereka yang sayangnya dia gagal untuk membunuhnya. Seiring berjalannya
waktu, dia mulai menyadari hewan buruan semakin sedikit dengan semakin
bertambahnya pemburu yang berkeliaran dalam hutan. Pernah dia dalam sehari
bertemu 20 orang pemburu. Melihat kondisi tersebut akhirnya membulatkan
tekadnya untuk membunuh manusia-manusia itu.
Di sisi lain sang pemburu besar itu
mengingat istrinya yang sedang hamil tua. Padahal itu adalah anak pertamanya.
Si Pemburu Besar itu berharap anaknya itu bisa menjadi anak yang selalu
membantu ibunya sebagai satu-satunya orang tua yang mengasuhnya, bisa menjadi
anak yang kuat dan perkasa serta bisa membantu orang yang membutuhkan. Si
Pemburu Besar itu menyesal tidak mengikuti saran teman-temannya untuk pulang
sebelum senja. Padahal teman-temannya sudah menyarankan untuk segera pulang
karena malam sudah mulai datang. Tapi dirinya punya prinsip untuk tidak pulang
sebelum dia bisa mendapatkan hewan buruan yang diincarnya. Dirinya sempat
melihat tanda-tanda kehidupan macan pohon ketika dia berburu bersama
teman-temannya. Di saat konsentrasinya mengintai tiba-tiba terdengar suara
bunyi tembakan, baru saja menengok perutnya terasa sakit. Ternyata perutnya
terkena tembakan peluru timah, dia pun langsung mencari arah sumber tembakan
dengan tangan memegangi perutnya menahan rasa sakit. Di ujung kejauhan dia
lihat sosok manusia menodongkan senjata ke arah dirinya. Tanpa pikir panjang
pun dia segera melarikan diri sambil menahan sakit.
Dia berusaha sekuat tenaga
menghindari kejaran sosok tersebut. Nahas, satu tembakan dilepas dari sosok
tersebut dan tepat mengenai kakinya. Seketika langsung Si Pemburu Besar
terjatuh terjerembab kesakitan. Dia berusaha sekuat tenaga untuk bangkit tapi
tidak berhasil, dalam usaha kesekian kalinya tetap saja tidak berhasil,
badannya terlalu besar untuk ditopang satu kaki saja. Akhirnya dia menyerah dan
berusaha bersandar di pohon besar yang ada di dekatnya. Dari kejauhan terdengar
suara tawa yang sepertinya dia kenal. Si pemburu besar itu memejamkan matanya
untuk menutupi sakit yang dideritanya. Saat itu terdengar langkah kaki tepat
berhenti di depannya. Si Pemburu Besar mulai membuka matanya. Dia pun
memperhatikan sepatu yang dipakai sosok ini, sepertinya aku mengenalnya,
katanya dalam hati, lalu celananya terdapat tambal di daerah lutut, sepertinya
dia kenal apa yang terjadi pada celana itu, lalu bajunya dia juga jelas tahu
betul, sejauh ini 85% dia mengenal siapa sosok seungguhnya yang mengejar dan
berniat membunuhnya. Terakhir dia menengadahkan wajahnya utnuk melihat wajah
sosok yang berdiri di depannya. “DEAN!!” teriak Si Pemburu Besar. “Teganya
dirimu melakukan ini padaku, kamu tahu kan kakakmu akan melahirkan dan saat ini
menungguku di sampingnya” jelas Si Pemburu Besar.
“Diam kamu! Hahaha” balas Dean nama
si pemburu bengis itu yang ternyata adalah adik iparnya. “Aku tidak mengenalmu!
Yang pasti kamu akan MATI!” teriak Dean di depan wajah si pemburu besar. Si
Pemburu Besar itu akhirnya pasrah mendengar kata-kata itu. Dia sudah tidak
mampu berbuat apa-apa dan bersiap menghadapi kenyataan dia akan mati. Namun di
saat Dean sudah siap mengayunkan pisau ke arah dadanya, BUUK!! Tepat kepala
belakang Dean dipukul oleh seseorang dengan benda keras. Ternyata itu adalah
Kartono yang tiba-tiba berlari kencang dari tempat persembunyiannya membawa
kayu besar di sekita semak lalu memukul Dean. Seketika Dean jatuh terhuyung ke
tanah. Tanpa membuang waktu segera Dean mengambl pistol yang ada di saku Dean. “Eh
bajingan! Kamu ingat aku kan?!” kata Kartono berusaha mengingatkan kepada Dean.
Sayang Dean hanya mampu terdiam membisu memegang kepalanya. Hampir saja Dean
mati tertembak, saat itu terdengar bunyi beberapa orang teriak memanggil nama
Dean. Khawatir akan keselamatannya dia pun memukul sekali lagi Dean dengan pistol
itu hingga Dean pun pingsan. Kartono segera memanggil Bersih dengan isyarat
agar tidak terdengar orang yang mencari Dean untuk membantunya menolong si
Pemburu Besar. Dengan susah payah akhirnya mereka berhasil sampai di gubuk tua Kartono.
Dan si Pemburu Besar mulai bercerita tentang siapa dia dan siapa orang yang
memburunya.
bersambung

0 comments:
Post a Comment