Wednesday, June 3, 2015

                “Langit semakin panas saja” keluh Mike. Walau panas terus menghalangi perjalanannya mencari pekerjaan. Sudah puluhan kantor dia masuki dan keluar dengan hasil yang sama, ditolak karena alasan sama, tidak ada lowongan pekerjaan untuknya. Memang dia adalah lulusan sarjana S1 dari sebuah universitas terkenal. Tapi jurusan yang dia ambil aneh bagi orang lain. Oceanology adalah jurusan yang dia ambil. Ya jurusan orang meneliti air. Teman-temannya menjuluki Mike si Pangeran Air. Bagaimana tidak dia bisa tahu air itu beracun atau tidak hanya dari mencium baunya. Dia bisa tahu air itu aman untuk diminum atau tidak. Dia pun lulus dengan IPK 4.0. Hanya saja keahliannya sekarang tidak terpakai sama sekali semenjak kejadian yang menimpa dirinya.
                 Seminggu setelah hari wisudanya, sudah beberapa perusahaan mencarinya untuk mendapatkan jasanya. Mike membaca satu persatu perusahaan yang akan memiliki jasanya. Ada satu perusahaan yang menarik dirinya. PT. KEJUJURAN AIR. Nama perusahaan yang anehm naun menarik melihat sejarah perusahaan itu di google sebagai salah satu perusahaan tersukses di bidang air. Banyak perusahaan besar lain memakai jasa perusahaan air tersebut. Bahkan perusahaan tersebut sudah tingkat internasional pemakai jasa mereka. Sayangnya dalam keterangan perusahaan tersebut akan menguji lagi keterampilan dan hanya akan ada satu orang saja setiap dari 100 orang yang diuji. Tantangan yang menarik pikir Mike.
                Akhirnya setelah berpikir puluhan kali Mike memutuskan untuk datang ke perusahaan tersebut. Setidaknya dia adalah sarjana air dengan nilai sempurna di universitas yang sangat terkenal. Berarti 80% sudah bisa dipastikan dia akan lolos, 20% lagi adalah ketidakberuntungan dan hal sepele lain, pikirnya. Tidak butuh waktu lama unutk menemukan kantor perusahaan tersebut, terletak di pinggir jalan raya besar dengan bentuk gedung yang unik membuat orang awam sekalipun akan mengenali dengan mudah. Mike dengan hati berdebar mulai memasuki gedung tersebut. Dia temui seorang wanita yang sedang duduk di resepsionis. Cantik dan menarik, nilai Mike dalam hatinya. Wanita itu meminta Mike mendatangi ruangan yang telah disediakan penguji. Kebetulan dengan dirinya sudah 10 orang.
                Mike diarahkan oleh wanita itu untuk menuju ruangan besar yang sekelilingnya didesain berwarna putih. Sekilas semua terlihat sangat bersinar. Untuk apa semua ini, bukankah ini akan tidak memuat nyaman orang-orang yang akan diuji, dan puluhan pertanyaan yang muncul dalam hatinya. Wanita itu meminta Mike duduk di sebuah kursi di tengah ruangan. Di sampingnya sudah ada 9 orang yang menunggu. Dari wajah mereka sepertinya sangat senior dan ada satu orang yang sangat menarik pandangannya. Ya, seorang pria dengan wajah bodoh, selalu tersenyum, apalagi kalau dilihat dari penampilannya juga tidak meyakinkan bahwa pria itu akan lolos. Berkurang sudah satu orang, pikirnya. Sebelum duduk Mike mengucapkan kepada wanita tersebut. Wanita itu hanya tersenyuum dan segera melangkah pergi.
                Sesaat setelah wanita itu pergi datang seorang berjas lab putih, berkacamata putih, berjenggot putih, rambutnya pun putih. Semua serba putih membuat pria itu terlihat bersinar dari kejauhan. Lalu pria itu mengenalkan diri sebagai penguji, dikatakannya ujian hanya berlangsung 5 menit dalam bentuk ujian menilai dua buah air yang sudah disediakan apakah beracun atau tidak. Sangat mudah pikir Mike. Itu adalah keahliannya selama ini. Dia pun tersenyum yakin dirinya akan lolos, 99% keyakinan yang ada dalam hatinya. Buat dia yang terpenting sekarang konsentrasi tingkat tinggi agar lolos. Penguji pun memberikan catatan, yang lolos adalah yang mampu menjawab dengan benar dan tercepat. Maka penilaian dimulai, dari orang yang lebih dahulu mengisi form dalam tab yang sudah disediakan lalu mengirim ke email penguji yang sudah otomatis ada dalam tab tersebut. Dan syarat yang terpenting, gelas tidak boleh disentuh, air dalam gelas pun tidak boleh disentuh karena salah satunya beracun, jadi yang diperbolehkan dalam menilai adalah hanya dengan melihat air tersebut.
                Akhirnya ujian dimulai, ada dua gelas berisi air yang keduanya sangat jernih. Semua orang termasuk Mike termenung melihatnya. Akhirnya setelah satu jam berlalu Mike mengirim hasil yang sudah didapatnya ke penguji. Dia yakin dengan hasil yang akan didapatnya. Setelah Mike satu per satu peserta mulai mengirim ke email si penguji. Penguji pun memberitahukan kepada peserta yang sudah selesai agar duduk kembali. Tersisa satu peserta yang terlihat belum mengirim hasil yang didapatnya. Mike melihat peserta itu adalah pria cupu tadi. Dia yakin dia adalah peserta yang gagal. Terlihat dari wajahnya yang kebingungan seperti tidak tahu apa-apa.
                Satu jam kemudian peserta itu baru menyelesaikan hasilnya dan mengirim ke penguji. Penguji pun langsung berdiri dan mengumumkan siapa yang berhak menjadi karyawan tetap dalam perusahaan terebut. Senyum sumringah sudah muncul dalam wajah Mike. Namun dalam waktu hitungan detik wajah itu berubah menjadi kemurungan mendalam. Kata-kata penguji membuatnya terjatuh sangat mendalam. Ya dari hasil yang diumumkan dia tidak berhasil lolos, bahkan dirinya berada urutan terakhir dalam penilaian. Apalagi mengetahui yang lolos ternyata adalah pria yang dianggapnya tidak bisa apa-apa.
                Dengan langkah gontai dia pun keluar dari gedung itu. Dalam hatinya yang paling dalam sangat tidak terima dengan penilaian penguji tersebut. Dia ingin protes tapi tidak tahu caranya protes. Langkah terakhir hanya pasrah saja. Setelahnya, dia selalu gagal dalam melakukan apapun. Saat ini pun dengan langkah gontai dia keluar dari gedung yang membutuhkan sarjana air, namun kembali gagal. Untuk ke-100 kalinya dia gagal dalam uji keterampilan air. Dia duduk termenung di sebuah taman. Dia lihat air mancur di taman tersebut mencoba menghiburnya. Menghela nafas panjang itu yang dapat dia lakukan.
                Tiba-tiba duduk disampingnya seseorang yang dia kenal. Seorang pria dengan penampilan yang sepertinya dia pernah lihat. Ternyata pria itu adalah pria yang bersaing denganya dan dia yang berhasil mengalahkannya. “Ejeklah aku sepuasmu, sekarang hidupku tidak berguna” kata Mike lemas dan menopang dagunya. “Lihatlah air itu, kawan!” kata pria itu membuka pembicaraan. Mike pun menurutinya, dan melihat air yang ditunjuk oleh pria itu. Tidak ada yang aneh, itu hanya air yang mengalir dari dalam tangki. “Lihatlah baik-baik, kita tidak pernah menyentuh air tersebut, tidak pernah mencium air tersebut, lalu apakah akan ada orang yang percaya air itu beracun jika kita memegangnya?” kata-kata pria itu mulai menyadari Mike. “Yang terpenting dalam menilai air adalah kita harus percaya pada diri kita sendiri tidak ada air yang beracun di dunia ini. Manusia itu sendiri yang membuat air menjadi racun” kata pria itu akhirnya membuat sadar Mike.
                Mike baru tersadar penguji waktu itu mengatakan kemungkinan air itu beracun. Bukan berarti air itu benar-benar beracun. Kejernihan air waktu itu benar-benar adalah air jernih. Kedua sample air tersebut adalah air jernih, tidak ada yang beracun. Dia menilai air tersebut beracun keduanya karena tidak boleh disentuh. Pantas dia berada di urutan terakhir. “Air tidak pernah berbohong, kawan!’ kata itu menjadi kata terakhir pria itu dan akhirnya pergi menjauh dari Mike. Mike benar-benar sadar, yang terpenting dalam suatu kehidupan bukan penampilan tapi sebuah hasil yang saat ini dilupakan oleh orang-orang kebanyakan. Kita lupa air akan selalu jujur apa adanya mengikuti alur jalan cerita kehidupannya.
               
               


                

0 comments:

Post a Comment