“Langit
semakin panas saja” keluh Mike. Walau panas terus menghalangi perjalanannya
mencari pekerjaan. Sudah puluhan kantor dia masuki dan keluar dengan hasil yang
sama, ditolak karena alasan sama, tidak ada lowongan pekerjaan untuknya. Memang
dia adalah lulusan sarjana S1 dari sebuah universitas terkenal. Tapi jurusan
yang dia ambil aneh bagi orang lain. Oceanology adalah jurusan yang dia ambil.
Ya jurusan orang meneliti air. Teman-temannya menjuluki Mike si Pangeran Air.
Bagaimana tidak dia bisa tahu air itu beracun atau tidak hanya dari mencium
baunya. Dia bisa tahu air itu aman untuk diminum atau tidak. Dia pun lulus
dengan IPK 4.0. Hanya saja keahliannya sekarang tidak terpakai sama sekali
semenjak kejadian yang menimpa dirinya.
Seminggu setelah hari wisudanya, sudah
beberapa perusahaan mencarinya untuk mendapatkan jasanya. Mike membaca satu
persatu perusahaan yang akan memiliki jasanya. Ada satu perusahaan yang menarik
dirinya. PT. KEJUJURAN AIR. Nama perusahaan yang anehm naun menarik melihat
sejarah perusahaan itu di google sebagai salah satu perusahaan tersukses di bidang
air. Banyak perusahaan besar lain memakai jasa perusahaan air tersebut. Bahkan
perusahaan tersebut sudah tingkat internasional pemakai jasa mereka. Sayangnya
dalam keterangan perusahaan tersebut akan menguji lagi keterampilan dan hanya akan
ada satu orang saja setiap dari 100 orang yang diuji. Tantangan yang menarik pikir
Mike.
Akhirnya
setelah berpikir puluhan kali Mike memutuskan untuk datang ke perusahaan
tersebut. Setidaknya dia adalah sarjana air dengan nilai sempurna di
universitas yang sangat terkenal. Berarti 80% sudah bisa dipastikan dia akan
lolos, 20% lagi adalah ketidakberuntungan dan hal sepele lain, pikirnya. Tidak
butuh waktu lama unutk menemukan kantor perusahaan tersebut, terletak di
pinggir jalan raya besar dengan bentuk gedung yang unik membuat orang awam
sekalipun akan mengenali dengan mudah. Mike dengan hati berdebar mulai memasuki
gedung tersebut. Dia temui seorang wanita yang sedang duduk di resepsionis.
Cantik dan menarik, nilai Mike dalam hatinya. Wanita itu meminta Mike
mendatangi ruangan yang telah disediakan penguji. Kebetulan dengan dirinya
sudah 10 orang.
Mike
diarahkan oleh wanita itu untuk menuju ruangan besar yang sekelilingnya
didesain berwarna putih. Sekilas semua terlihat sangat bersinar. Untuk apa
semua ini, bukankah ini akan tidak memuat nyaman orang-orang yang akan diuji,
dan puluhan pertanyaan yang muncul dalam hatinya. Wanita itu meminta Mike duduk
di sebuah kursi di tengah ruangan. Di sampingnya sudah ada 9 orang yang
menunggu. Dari wajah mereka sepertinya sangat senior dan ada satu orang yang
sangat menarik pandangannya. Ya, seorang pria dengan wajah bodoh, selalu
tersenyum, apalagi kalau dilihat dari penampilannya juga tidak meyakinkan bahwa
pria itu akan lolos. Berkurang sudah satu orang, pikirnya. Sebelum duduk Mike
mengucapkan kepada wanita tersebut. Wanita itu hanya tersenyuum dan segera
melangkah pergi.
Sesaat
setelah wanita itu pergi datang seorang berjas lab putih, berkacamata putih,
berjenggot putih, rambutnya pun putih. Semua serba putih membuat pria itu
terlihat bersinar dari kejauhan. Lalu pria itu mengenalkan diri sebagai
penguji, dikatakannya ujian hanya berlangsung 5 menit dalam bentuk ujian
menilai dua buah air yang sudah disediakan apakah beracun atau tidak. Sangat
mudah pikir Mike. Itu adalah keahliannya selama ini. Dia pun tersenyum yakin
dirinya akan lolos, 99% keyakinan yang ada dalam hatinya. Buat dia yang
terpenting sekarang konsentrasi tingkat tinggi agar lolos. Penguji pun
memberikan catatan, yang lolos adalah yang mampu menjawab dengan benar dan
tercepat. Maka penilaian dimulai, dari orang yang lebih dahulu mengisi form
dalam tab yang sudah disediakan lalu mengirim ke email penguji yang sudah
otomatis ada dalam tab tersebut. Dan syarat yang terpenting, gelas tidak boleh
disentuh, air dalam gelas pun tidak boleh disentuh karena salah satunya
beracun, jadi yang diperbolehkan dalam menilai adalah hanya dengan melihat air
tersebut.
Akhirnya
ujian dimulai, ada dua gelas berisi air yang keduanya sangat jernih. Semua
orang termasuk Mike termenung melihatnya. Akhirnya setelah satu jam berlalu
Mike mengirim hasil yang sudah didapatnya ke penguji. Dia yakin dengan hasil
yang akan didapatnya. Setelah Mike satu per satu peserta mulai mengirim ke
email si penguji. Penguji pun memberitahukan kepada peserta yang sudah selesai
agar duduk kembali. Tersisa satu peserta yang terlihat belum mengirim hasil
yang didapatnya. Mike melihat peserta itu adalah pria cupu tadi. Dia yakin dia
adalah peserta yang gagal. Terlihat dari wajahnya yang kebingungan seperti
tidak tahu apa-apa.
Satu
jam kemudian peserta itu baru menyelesaikan hasilnya dan mengirim ke penguji.
Penguji pun langsung berdiri dan mengumumkan siapa yang berhak menjadi karyawan
tetap dalam perusahaan terebut. Senyum sumringah sudah muncul dalam wajah Mike.
Namun dalam waktu hitungan detik wajah itu berubah menjadi kemurungan mendalam.
Kata-kata penguji membuatnya terjatuh sangat mendalam. Ya dari hasil yang
diumumkan dia tidak berhasil lolos, bahkan dirinya berada urutan terakhir dalam
penilaian. Apalagi mengetahui yang lolos ternyata adalah pria yang dianggapnya
tidak bisa apa-apa.
Dengan
langkah gontai dia pun keluar dari gedung itu. Dalam hatinya yang paling dalam
sangat tidak terima dengan penilaian penguji tersebut. Dia ingin protes tapi
tidak tahu caranya protes. Langkah terakhir hanya pasrah saja. Setelahnya, dia
selalu gagal dalam melakukan apapun. Saat ini pun dengan langkah gontai dia
keluar dari gedung yang membutuhkan sarjana air, namun kembali gagal. Untuk
ke-100 kalinya dia gagal dalam uji keterampilan air. Dia duduk termenung di
sebuah taman. Dia lihat air mancur di taman tersebut mencoba menghiburnya. Menghela
nafas panjang itu yang dapat dia lakukan.
Tiba-tiba
duduk disampingnya seseorang yang dia kenal. Seorang pria dengan penampilan
yang sepertinya dia pernah lihat. Ternyata pria itu adalah pria yang bersaing
denganya dan dia yang berhasil mengalahkannya. “Ejeklah aku sepuasmu, sekarang
hidupku tidak berguna” kata Mike lemas dan menopang dagunya. “Lihatlah air itu,
kawan!” kata pria itu membuka pembicaraan. Mike pun menurutinya, dan melihat
air yang ditunjuk oleh pria itu. Tidak ada yang aneh, itu hanya air yang
mengalir dari dalam tangki. “Lihatlah baik-baik, kita tidak pernah menyentuh
air tersebut, tidak pernah mencium air tersebut, lalu apakah akan ada orang
yang percaya air itu beracun jika kita memegangnya?” kata-kata pria itu mulai
menyadari Mike. “Yang terpenting dalam menilai air adalah kita harus percaya
pada diri kita sendiri tidak ada air yang beracun di dunia ini. Manusia itu
sendiri yang membuat air menjadi racun” kata pria itu akhirnya membuat sadar
Mike.
Mike
baru tersadar penguji waktu itu mengatakan kemungkinan air itu beracun. Bukan
berarti air itu benar-benar beracun. Kejernihan air waktu itu benar-benar
adalah air jernih. Kedua sample air tersebut adalah air jernih, tidak ada yang
beracun. Dia menilai air tersebut beracun keduanya karena tidak boleh disentuh.
Pantas dia berada di urutan terakhir. “Air tidak pernah berbohong, kawan!’ kata
itu menjadi kata terakhir pria itu dan akhirnya pergi menjauh dari Mike. Mike
benar-benar sadar, yang terpenting dalam suatu kehidupan bukan penampilan tapi
sebuah hasil yang saat ini dilupakan oleh orang-orang kebanyakan. Kita lupa air
akan selalu jujur apa adanya mengikuti alur jalan cerita kehidupannya.

0 comments:
Post a Comment