Monday, June 1, 2015

            

              Bersih dan Rapi hanya terdiam selama perjalanan menuju gubuk Kartono. Mereka berdau tak mampu berkata apa-apa. Dalam dunia mereka, dunia begitu amannya karena tidak ada namanya pistol ataupun pisau. Mereka diajarkan benda-benda itu adalah hal terlarang karena bisa membuat umat manusia menjadi punah. Sehingga tidak ada namanya manusia menyakiti manusia lainnya seperti yang mereka lihat. Ternyata masa lalu tidak semuanya indah, ada beberapa hal yang ternyata begitu menyedihkan dan sangat suram. Contohnya telah mereka lihat. Bersih pun mencoba melihat kembali apa yang terjadi pada orang yang dibantunya. Sebenarnya ada hal aneh yang dia lihat, bahwa di dunia manusia masa depan tidak ada manusia berbadan seperti yang sedang ditolongnya ini. Berat badan dan tinggi badan semua sudah disetting dengan program super canggih. Bersih terus memperhatikan Si Pemburu Besar. “Kenapa ada yang salah dengan saya?” kata Pemburu Besar itu dengan nada yang terputus-putus karena lelah menahan rasa sakit. Bersih salah tingkah dan diam saja.

            “Sepertinya kamu bukan orang asli Macara ya, asal kamu darimana?” tanya si Pemburu Besar kepada Bersih. “Dia bersama adiknya berasal dari luar negeri, hmm Toroca, ya Toroca asal negara mereka” kata Kartono menyela Bersih untuk berbicara. “Hmm aneh baru aku dengar nama negara itu, pasti bahasa kalian berbeda ya, pantas kalian diam saja, oh ya kenalkan Ramca, dari kota Merah Darah” kata si Pemburu Besar mengenalkan diri. Dan Kartono pun mengenalkan dirinya serta Bersih dan Rapi. Untuk Bersih dan Rapi sebenarnya mereka memang mempunyai bahasa yang berbeda, tapi dengan teknologi canggih yang telah diciptakan oleh ilmuwan di masa depan melalui database tidak terbatas menciptakan alat yang mampu menerjemahkan bahasa serta secara otomatis mereka juga akan mampu berbicara bahasa dan logat mereka. Kartono sudah mengetahui hal ini sesungguhnya. Tapi terlalu riskan memperkenalkan Bersih dan Rapi kepada Ramca. Bisa-bisa Bersih dan Rapi dibawa pergi untuk dijadikan penelitian manusia tidak mempunyai hati.

            Sesampainya di gubuk Kartono, Si Pemburu Besar mengenalkan dirinya dan berterima kasih karena sudah menolongnya. “Derick” kata si Pemburu Besar mengenalkan dirinya. Dia pun bercerita panjang lebar mengenai dirinya. Mulai dari siapa dia sebenarnya, bagaimana dia bisa dikejar, mengapa dia dikejar, apa penyebabnya dia dikejar, dimana dia tinggal, dan berbagai cerita yang sama sekali Kartono tidak mendengarkan, hanya Bersih dan Rapi yang mendengarkan. Baru pertama mereka mendengarkan cerita yang panjang dari seseorang. Mereka tidak pernah bertemu seseorang bercerita panjang dan lebar. Bahkan dengan Kartono saja dengan mereka lebih banyak diam dan sesekali bercerita jika dirasa sudah terlalu lama suasana diam. Bersih dan Rapi semakin bingung dengan watak nenek moyang mereka sendiri. Padahal di dalam tayangan film-film mengenai watak nenek moyang mereka tidak seperti yang digambarkan. Dalam film selalu dijelaskan sudah dari dulu tidak ada itu dalam sebuah pertemuan bercerita panjang lebar seperti Derick ini. Mereka bahkan melihat aneh, baru saja Derick selamat dari sebuah kejadian besar yang hampir merenggut nyawanya tapi langsung merasa lega dan bisa tertawa ceria sekali sepertinya.

            Derick terus bercerita dengan tetap menahan rasa sakitnya yang terkadang muncul. Kartono pun yang menyadarinya menyuruh Rapi untuk mengambil gunting dan mangkuk besar. Lalu Kartono keluar gubuk, dia terlihat seperti mencari sesuatu di sekitar gubuknya. Beberapa lama kemudian dengan wajah tersenyum dia justru ke belakang gubuknya. Sepertinya dia akan melakukan sesuatu dengan barang temuannya itu. Dan jadi pertanyaan besar bagi orang yang berada dalam gubuk untuk apa sesuatu itu. Cukup lama Derick menahan rasa sakit akhirnya Kartono muncul. Dengan segera Kartono merebahkan Derick di tempat tidurnya. Tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu yang dia temukan tadi. Ternyata itu adalah kayu yang dibuat sedemikian rupa menjadi seperti sumpit.

            Berlagak seperti dokter Kartono berhati-hati membuka luka Derick. Sebelumnya Derick mengigit bajunya sekuat mungkin atas perintah Kartono untuk menghindari teriakan rasa sakit luar biasa selam pengobatan. Bisa jadi karena teriakannya itu terdengar oleh Dean dan kawanannya. Bersih diperintah bersiaga di jendela untuk berjaga kemungkinan akan datangnya kawanan Dean. Sedangkan Rapi diminta membantu Kartono mengobati Derick. Dalam waktu 5 jam akhirnya 2 peluru yang bersarang di tubuhnya sudah dikeluarkan. Luka terbukanya diberi dedauanan yang biasa dipakai Kartono ketika luka. Daun itu mampu menutup luka dengan cepat. Walaupun efek yang dirasakan pertama kali adalah rasa gatal pada luka. Namun bagi Derick itu tidak berarti apa-apa lagi dibanding rasa sakit yang dideritanya ketika Kartono berusaha mengeluarkan timah-timah tersebut.
           
            Kartono mempersilahkan Derick untuk beristirahat sementara dia dan Bersih akan berjaga secara bergantian. Untuk Rapi karena dia adalah satu-satunya perempuan, Kartono memintanya untuk memasak makanan bagi mereka dan mempersiapkan diatas meja. Saat ini giliran Bersih untuk berjaga, maka Kartono punu membantu Rapi memasak. “Tidak pernah memasak ya di rumahmu?” pertanyaan yang terlontar dari mulut Kartono membuat Rapi malu bukan kepalang. Wajahnya memerah menahan malu. Apalagi Kartono tersenyum melihat tingkah laku Rapi yang salah tingkah ditanyakan pertanyaan tersebut semakin membuat Rapi salah tingkah. Akibatnya ketika mencoba meniup perapian tungku tiupannya terlalu besar sehingga asap dalam perapian membalik keluar dan mengenai wajah Rapi. Kartono tertawa melihat tingkah Rapi seperti itu. Rapi pun memasang muka cemberut. Jauh di dalam hatinya dunia menjadi begitu indah dengan mimic wajah. Baru pertama dia memasang muka cemberut. Baru pertama dia memasang wajah malu. Baru pertama dia merasakan ternyata mimic wajah memang adalah sebuah bentuk kejujuran hati seorang manusia.

            Masakan sudah matang, tiba-tiba Bersih datang menghampiri dengan nafas terengah-engah dan tegang, dia baru saja melihat seseorang dari arah kejauhan. Kartono seketika berubah wajahnya dari senyum manis menjadi wajah tegang luar biasa. Segera dia melihat dari celah jendela gubuknya. Benar! Terlihat ada dua sosok manusia mengendap-endap. Kartono segera berfikir cepat, di dalam gubuk ada 4 orang, 2 orang manusia tidak tahu cara bertahan hidup, satu orang sudah terkapar tak mampu bergerak lagi dan hanya dirinya yang harus mengatasi itu sendiri. Ketegangan semakin menjadi, kala Rapi tiba-tiba memasang wajah ketakutan dan akan menangis, Bersih yang berdiri di sampingnya justru memasang wajah bingung tak tahu harus berbuat apa. Kartono menyadari tingkah Rapi segera memeluknya. Rapi kaget baru pertama dipeluknya dan dia merasakan kehangatan yang luar biasa. Kehangatan yang jauh berbeda dengan peralatan paling canggih yang dia pernah coba untuk menghangatkan dirinya. Dalam suasana seperti itu terganggu dengan suara langkah kaki yang semakin dekat. Akhirnya Kartono menemukan cara untuk menghadapinya. Sebuah cara terakhir bertahan hidup dan menyelamatkan orang-orang disekitarnya. Tapi jauh dari tujuan itu Kartono menyimpan sebuah rencana besar.


Bersambung…..

0 comments:

Post a Comment