Seorang
laki-laki berdiri terpaku melihat bayinya sudah lahir ke dunia ini. Terlukis
senyum bahagia di wajahnya. Segera dia mendatangi bayinya itu. Dia gendong
anaknya itu. Tidak lupa dia adzani di kuping kanannya dan dia qomati kuping
kirinya. Dia bangga akhirnya doanya terkabul, keinginan untuk memiliki anak
pertama laki-laki dikabulkan oleh sang Pencipta. Begitupun istrinya tersenyum.
Hari itu bagi mereka lebih membahagiakan dibandingkan hari pernikahan mereka.
Anak pertama mereka pun dinamai Ahmad Zaid.
Tak
jauh dari kegembiraan keluarga Ahmad, seorang laki-laki juga was-was menunggui
kelahiran anak keduanya. Walaupun bukan pertama kali dia menunggui istrinya,
tetap saja rasa was-was menghantui hatinya. Di pangkuannya tertidur putri kecilnya,
ya sebentar lagi dia akan menjadi seorang kakak. Waktu terus berputar sampai
akhirnya dokter keluar membawa kabar gembira kelahiran putrid keduanya. Dengan
senyum mengembang dibangunkannya putrid sulungnya itu. Dengan mata sayu, sang
ayah mengabarkan adiknya telah lahir ke dunia ini dengan selamat dan sehat
tanpa kekurangan sedikit pun. Aisyah Humaira, nama yang disematkan pada anak
perempuan cantik itu.
Tahun
demi tahun berlalu semenjak peristiwa kelahiran kedua insan manusia tersebut ke
dunia fana ini. Dalam proses kehidupan mereka belajar banyak hal. Membuat
mereka lebih dewasa dibanding seumuran mereka. Sampai ketika remaja, Ahmad
bertanya pada sang ayah tercinta, “Ayah, mengapa aku tidak boleh mencintai saat
ini? Padahal temen-temenku udah punya pacar semua”. Dengan wajah lugu dan
polosnya ternyata terlontar pula pertanyaan majemuk permasalahan remaja kepada
sang ayah. Dengan bijak pun sang ayah menjawab,”Karena cinta sejati itu hanya
ada ketika kamu menikah nak.” Jawaban bijak sang ayah sesungguhnya tak mampu
memuaskan hati sang anak. Masih banyak pertanyaan yang tersimpan dalam hatinya.
Entah datang darimana, bisikan halus datang kepada Ahmad agar dia diam saja dan
menjalani saja hidup penuh dusta ini.
Disisi
lain Aisyah sedang murung di dalam kamar. Tidak seperti biasanya semangat ceria
selalu tercermin dalam dirinya. Khusus hari ini pulang sekolah dengan wajah
murung dan lesu dia buka pintu rumah, tak lupa salam diucapkan menjadi
kebiasaan rutin tak terlupakan. Sang ibu dengan nalurinya jelas faham ada hal
yang mengganjal di hati sang buah hati tercinta. Dengan lembut ditanyalah sang
anak,”Anak mama yang cantik satu ini kok merengut aja sih?” seolah tersihir
kata-kata dari mamanya, Aisyah membalas dengan lirih,”Ma, mengapa aku tidak
cantik seperti kakak? Kakak gonta-ganti pacar, ganteng-ganteng lagi.” Tahu
pokok permasalahan adalah sang kakak, Mamanya dengan senyum magisnya pun
membisikkan kata pelan ke telinga Aisyah,”Karena kamu seperti permata, yang
akan mengambil hanya satu orang yang benar cocok dengan kamu.” Aisyah hanya
mengerutkan dahinya tanda belum mengerti sepenuhnya perkataan bijak sang Mama
tercinta. Ingin memberontak atas jawaban itu seakan sia-sia akhirnya pasrah dan
dia simpan jawaban itu dalam benaknya.
Waktu
pun berlalu kembali seperti biasa. Permasalahan yang sering muncul dalam kehidupan
mereka dengan bijak mereka lewati. Selalu teringat pesan kedua orang tua,
itulah senjata andalan mereka dalam menghadapi setiap permasalahan. Mangga yang
pahit bisa menjadi manis karena proses, pesan sang ayah pada Ahmad. Permata
agar bisa menjadi indah tak ternilai harganya harus melewati proses panjang,
pesan sang mama pada Aisyah. Dengan prinsip itu mereka yakin akan selalu ada
jawaban dari setiap masalah.
Seakan
waktu terus berputar tak mau berhenti. Takdir pun menjadi benang penuntun
keduanya untuk bertemu pada sebuah pertemuan tak terduga. Ahmad harus
mendatangi rumah sakit tempat dimana ia dilahirkan karena disitulah dia bekerja
sebagai dokter yang terkenal akan kemurahan hatinya. Dia datang terburu-buru
sebelum terlambat menangani seorang pasien perempuan yang kecelakaan. Dilihat
secara kondisi yang parah membuat sang perempuan harus menjalani perawatan
intensif. Ahmad berjuang sekuat tenaga, tak lupa doa dalam hatinya kepada Tuhan
Sang Maha Penyembuh. Dua jam berlalu dengan akhir senyum sang dokter. Tuhan
mengabukan doanya. Perempuan tua tadi terselamatkan. Namun satu kaki si korban
harus diamputasi untuk menyelamatkan nyawanya.
Kegembiraan
terpancar dari keluarga yang sedang menunggu. “Dok, kabar Aisyah anak saya
gimana?” Tanya sang mama kepada Ahmad. “Alhamdulillah, anak ibu bisa
diselamatkan tapi kakinya harus diamputasi untuk menolongnya.” Kabar tak
menyenangkan itu langsung menyambar hati sang mama. Anak perempuan yang selalu
dia jaga dari sentuhan laki-laki tak bermoral itu harus kehilangan kaki sebagai
sumbernya untuk berjalan. Seribu kemungkinan jawaban langsung terlintas di
benak sang mama untuk menghadapi kemungkinan pertanyaan-pertanyaan dari Aisyah.
Ahmad yang mengerti kondisi psikis sang ibu jatuh segera menyemangatinya. “Anak
ibu tetap cantik seperti permata tanpa cacat sedikit pun” kata dari Ahmad ini
seakan menumbuhkan semangat yang seakan pergi sesaat.
Tak
butuh waktu lama untuk Aisyah sadar dari tidur panjangnya. Tersadar di dalam
kamar yang serba putih, dan rasa sakit sekujur tubuh membuatnya mengingat
kembali apa yang terjadi sebelumnya. Sayang, ingatan yang dicari seakan
terselip diantara ribuan file ingatan yang lain, semakin dia berusaha semakin sakit
kepalanya dan akhirnya menyerah. Dalam kesadaran penuh berdiri di hadapannya
Ahmad.
Bersambung…

0 comments:
Post a Comment