Wednesday, June 10, 2015


                “Kamu siapa? Aku dimana? Kok badanku sakit semua?” pertanyaan itu yang pertama kali terlontar dari mulut manis Aisyah. “Kamu tenang ya, sekarang kamu lagi ada di rumah sakit, tak ingatkah kejadian beberapa hari yang lalu?” perkataan yang keluar dari mulut bijak Ahmad seakan menjawab semuanya dan membantu Aisyah mengingat apa yang terjadi beberapa hari lalu. Dia ingat bagaimana saat itu ingin menyebrang jalan dan ternyata dia tidak sadar ada motor sedang melaju kencang ke arahnya, setelah itu yang diingat hanyalah kegelapan dan begitu melihat ada cahaya dia sudah berada di rumah sakit. Aisyah sudah mampu mengingat tapi gelengan kepala justru sebagai isyarat jawaban dari pertanyaan Ahmad. Dengan senyum Ahmad pun kembali melanjutkan untuk mengecek kondisi Aisyah, setelah dirasa yakin sudah sesuai prosedur Ahmad meninggalkan Aisyah.
                Tak lama Ahmad pergi, mamanya masuk ke dalam kamar Aisyah sedang dirawat. “Mama, badanku kok terasa aneh ya?” tanya Aisyah sebagai kalimat pertama kepada mamanya. “Aneh gimana saying?” sesungguhnya hati sang mama sudah gundah bingung apa yang harus dikatakan tentang kondisi anaknya tersebut. “ Ini ma, kaki aku kok yang satu ga bisa digerakkin?” akhirnya pertanyaan yang tidak diinginkan keluar sudah dari mulut Aisyah. Mamanya diam seribu bahasa, akhirnya justru berlari keluar kamar rawat dengan tangis mengalir deras dari sumbernya yang sudah tak kuasa menahan lagi.
                Mungkin memang takdir Ahmad secara kebetulan harus kembali mengecek kondisi Aisyah karena ada sesuatu hal yang ternyata dia lupa. Tepat di lorong menuju kamar Aisyah terlihat mama Aisyah sedang berjongkok menangis. Ahmad tak kuasa untuk menahan sebuah perasaan melihat seorang ibu menangisi anaknya. Itulah hal yang paling ia benci selama jadi dokter. Tangisan yang keluar dari mata mulia seorang ibu kepada anaknya. Dia lebih benci untuk melihat hal itu dibandingkan harus melihat mayat yang hancur tidak dikenali sekalipun. Segera ia pun menghampiri sang mama. Ahmad pun mengerti tentang apa yang terjadi setelah berbincang dengan sang mama. Dia berjanji untuk mengatakan kondisi Aisyah sebenarnya tanpa harus melukai hati Aisyah.
                Tangisan sang mama pun terhenti dan diganti dengan senyum bahagia. Ahmad pun membalas senyum Mama Aisyah. Dengan langkah pasti memasuki kamar Aisyah. Dilihatnya Aisyah sedang memandang kea rah luar jendela. Di luar jendela terlihat burung-burung berkicau dengan riang. Hal itu membuat Aisyah merasa terhibur. Hatinya menjadi cerah tercermin dari senyum manisnya. Ahmad pun mendekati Aisyah. Padahal belum lama mereka kenal, Aisyah merasa sangat mengenal Ahmad. Perbincangan pun mengalir begitu saja diantara mereka berdua. Dari luar Mama Aisyah menyaksikan kejadian itu menangis haru melihat anaknya bisa tertawa bahagia.
                Perbincangan diantara Ahmad dan Aisyah berubah menjadi serius kala Ahmad mengatakan kondisi sesungguhnya dari Aisyah. Tawa senyum Aisyah menghilang bagaikan debu tertiup angin kencang. Aisyah merasa hatinya tersambar petir, sakit, pedih dan panas. Aisyah ingin menangis, dalam pikirannya terlintas bagaimana masa depannya. Apakah kondisinya itu akan membuat keluarganya menjadi malu, apakah teman-temannya akan menjauh, apakah para laki-laki yang selama ini banyak dia tolak sekarang menjadi terbalik, dan begitu banyak lagi pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
                Ahmad tahu kondisi Aisyah mengalami shock. Dia pun keluar kamar tanpa meminta izin dari Aisyah. Aisyah sendiri juga tidak mempedulikannya. Di luar sang mama masih menunggu hasil perbincangan keduanya. Dia tersentak kaget Ahmad langsung pergi begitu saja tanpa ada sepatah kata keluar dari mulutnya. Apakah seperti ini semua dokter muda, benaknya mulai berpikiran negative. Tanpa banyak pikir, Mama Aisyah masuk ke dalam kamar Aisyah, dilihatnya mata anak tercintanya kosong. Sang Mama pun tak bisa menahan tangis. “Mengapa ujian berat harus diberikan pada anakku, ya tuhan, mengapa bukan aku saja?” protes sang mama dalam batinnya yang terluka.
                Sang mama pun memutuskan untuk pulang tidak tega melihat kondisi anaknya yang seperti itu. Tak lama Mama Aisyah pergi dari kamar rawat, Ahmad ternyata datang kembali dengan mendorong kursi roda untuk Aisyah. Dimintanya Aisyah untuk duduk di kursi itu. Tanpa banyak tanya Aisyah menuruti apa yang diminta Ahmad. Dibantunya Aisyah duduk di kursi itu, hati Aisyah justru terjadi kemelut. Antara senang melihat tetap ada seorang pria yang membantunya dengan bisikan Ahmad ini membantunya karena dia adalah seorang dokter. Dalam benaknya terus berkecamuk tidak tentu arah mana yang benar mana yang salah. Lamunannya tiba-tiba buyar setelah Ahmad memanggil namanya.

Bersambung…

0 comments:

Post a Comment