“Kamu
siapa? Aku dimana? Kok badanku sakit semua?” pertanyaan itu yang pertama kali
terlontar dari mulut manis Aisyah. “Kamu tenang ya, sekarang kamu lagi ada di
rumah sakit, tak ingatkah kejadian beberapa hari yang lalu?” perkataan yang
keluar dari mulut bijak Ahmad seakan menjawab semuanya dan membantu Aisyah
mengingat apa yang terjadi beberapa hari lalu. Dia ingat bagaimana saat itu
ingin menyebrang jalan dan ternyata dia tidak sadar ada motor sedang melaju
kencang ke arahnya, setelah itu yang diingat hanyalah kegelapan dan begitu
melihat ada cahaya dia sudah berada di rumah sakit. Aisyah sudah mampu
mengingat tapi gelengan kepala justru sebagai isyarat jawaban dari pertanyaan
Ahmad. Dengan senyum Ahmad pun kembali melanjutkan untuk mengecek kondisi
Aisyah, setelah dirasa yakin sudah sesuai prosedur Ahmad meninggalkan Aisyah.
Tak
lama Ahmad pergi, mamanya masuk ke dalam kamar Aisyah sedang dirawat. “Mama,
badanku kok terasa aneh ya?” tanya Aisyah sebagai kalimat pertama kepada
mamanya. “Aneh gimana saying?” sesungguhnya hati sang mama sudah gundah bingung
apa yang harus dikatakan tentang kondisi anaknya tersebut. “ Ini ma, kaki aku
kok yang satu ga bisa digerakkin?” akhirnya pertanyaan yang tidak diinginkan
keluar sudah dari mulut Aisyah. Mamanya diam seribu bahasa, akhirnya justru
berlari keluar kamar rawat dengan tangis mengalir deras dari sumbernya yang
sudah tak kuasa menahan lagi.
Mungkin
memang takdir Ahmad secara kebetulan harus kembali mengecek kondisi Aisyah
karena ada sesuatu hal yang ternyata dia lupa. Tepat di lorong menuju kamar
Aisyah terlihat mama Aisyah sedang berjongkok menangis. Ahmad tak kuasa untuk
menahan sebuah perasaan melihat seorang ibu menangisi anaknya. Itulah hal yang
paling ia benci selama jadi dokter. Tangisan yang keluar dari mata mulia
seorang ibu kepada anaknya. Dia lebih benci untuk melihat hal itu dibandingkan
harus melihat mayat yang hancur tidak dikenali sekalipun. Segera ia pun
menghampiri sang mama. Ahmad pun mengerti tentang apa yang terjadi setelah
berbincang dengan sang mama. Dia berjanji untuk mengatakan kondisi Aisyah
sebenarnya tanpa harus melukai hati Aisyah.
Tangisan
sang mama pun terhenti dan diganti dengan senyum bahagia. Ahmad pun membalas
senyum Mama Aisyah. Dengan langkah pasti memasuki kamar Aisyah. Dilihatnya
Aisyah sedang memandang kea rah luar jendela. Di luar jendela terlihat
burung-burung berkicau dengan riang. Hal itu membuat Aisyah merasa terhibur.
Hatinya menjadi cerah tercermin dari senyum manisnya. Ahmad pun mendekati
Aisyah. Padahal belum lama mereka kenal, Aisyah merasa sangat mengenal Ahmad.
Perbincangan pun mengalir begitu saja diantara mereka berdua. Dari luar Mama
Aisyah menyaksikan kejadian itu menangis haru melihat anaknya bisa tertawa
bahagia.
Perbincangan
diantara Ahmad dan Aisyah berubah menjadi serius kala Ahmad mengatakan kondisi
sesungguhnya dari Aisyah. Tawa senyum Aisyah menghilang bagaikan debu tertiup
angin kencang. Aisyah merasa hatinya tersambar petir, sakit, pedih dan panas.
Aisyah ingin menangis, dalam pikirannya terlintas bagaimana masa depannya.
Apakah kondisinya itu akan membuat keluarganya menjadi malu, apakah
teman-temannya akan menjauh, apakah para laki-laki yang selama ini banyak dia
tolak sekarang menjadi terbalik, dan begitu banyak lagi pertanyaan yang muncul
dalam benaknya.
Ahmad
tahu kondisi Aisyah mengalami shock. Dia pun keluar kamar tanpa meminta izin
dari Aisyah. Aisyah sendiri juga tidak mempedulikannya. Di luar sang mama masih
menunggu hasil perbincangan keduanya. Dia tersentak kaget Ahmad langsung pergi
begitu saja tanpa ada sepatah kata keluar dari mulutnya. Apakah seperti ini
semua dokter muda, benaknya mulai berpikiran negative. Tanpa banyak pikir, Mama
Aisyah masuk ke dalam kamar Aisyah, dilihatnya mata anak tercintanya kosong.
Sang Mama pun tak bisa menahan tangis. “Mengapa ujian berat harus diberikan
pada anakku, ya tuhan, mengapa bukan aku saja?” protes sang mama dalam batinnya
yang terluka.
Sang
mama pun memutuskan untuk pulang tidak tega melihat kondisi anaknya yang
seperti itu. Tak lama Mama Aisyah pergi dari kamar rawat, Ahmad ternyata datang
kembali dengan mendorong kursi roda untuk Aisyah. Dimintanya Aisyah untuk duduk
di kursi itu. Tanpa banyak tanya Aisyah menuruti apa yang diminta Ahmad.
Dibantunya Aisyah duduk di kursi itu, hati Aisyah justru terjadi kemelut.
Antara senang melihat tetap ada seorang pria yang membantunya dengan bisikan
Ahmad ini membantunya karena dia adalah seorang dokter. Dalam benaknya terus
berkecamuk tidak tentu arah mana yang benar mana yang salah. Lamunannya
tiba-tiba buyar setelah Ahmad memanggil namanya.
Bersambung…

0 comments:
Post a Comment