“Lo
mau mati ya, Sin?! Udah ayo sini masuk ke rumah gw! Sebelum lo malah pingsan”
lanjut Ahmad
Segera
saja Sinta, si bayangan Ahmad, mengikuti Ahmad untuk masuk ke dalam rumahnya.
Butuh usaha keras baginya untuk berdiri akibat kekurangan oksigen tadi. Melihat
kondisi Sinta yang sempoyongan susah payah, Ahmad segera saja membantu Sinta
berdiri serta berjalan menuju rumahnya.
Setelah
membantunya sampai duduk di sofa, segera Ahmad menyiapkan minum air putih segar
untuk Sinta. Tidak lupa juga Ahmad membawa handuk basah untuk membasuh muka
Sinta serta membantunya menghilangkan rasa pusing akibat kekurangan oksigen
tadi. Butuh waktu lama untuk Sinta kembali ke kondisinya. Walaupun begitu Ahmad
dengan sabar menunggu Sinta.
“Udah
segeran Sin?” tanya Ahmad yang dijawab dengan gelengan kepala Sinta.
“Yaudah
malam ini tidur di rumah gw aja, ga aman kalo lo balik bawa kendaraan pulang
setelah kondisi lo yang kaya begini.” Terang Ahmad.
Permintaan
dari Ahmad ini membuat Sinta hanya terdiam membisu dengan tatapan tidak percaya
menatap Ahmad. Tak pernah terbesit sekalipun dalam bayang Sinta dia bisa tidur
di rumah Ahmad, lelaki pujaannya. Namun relung hatinya mengelak dengan kondisi
ini. Hatinya berusaha meyakinkan dirinya sesungguhnya Ahmad adalah seorang
dokter tentu sudah kewajiban bagi seorang dokter menolong setiap pasiennya.
Hampir saja Sinta bahagia, Ahmad mau menerima dirinya. Wajah Sinta yang akan
menampakkan ceria dalam sekejap saja berubah muram kelam. Ahmad pun jelas
memperhatikan perubahan mimic wajah temannya ini.
“Kamu
kenapa Sin? Ada masalah?” tanya Ahmad lembut. Tapi SInta hanya menggelengkan
kepala kembali. Bukan sombong maksud dari sikap SInta. Akan tetapi, mulutnya
seakan terkunci rapat membuat suaranya sama sekali tidak mampu berkata.
“Yaudah
kamar lo itu disana ya, udah kuat kan jalan sendiri?” Ahmad menunjuk kamar tamu
yang terletak di sebelah kamarnya. Lagi-lagi Sinta mnejawab dengan isyarat
anggukan kepala. Tepat setelah itu juga, Sinta bangun dari duduknya dan segera
menuju kamar yang telah ditunjukkan Ahmad. Namun, belum sampai setengah langkah
menuju kamar, tiba-tiba langkahya terhenti, kedua matanya terasa berputar dan
BRUK! Sinta jatuh pingsan. Ahmad pun segera menolong Sinta, membopongnya masuk ke
dalam kamar. Saat dalam langkah kakinya, tak sengaja Ahmad melihat wajah polos
Sinta. Tak terasa air matanya menetes. Dia teringat wajah Angelina yang seakan
saat ini berada pada wajah Sinta. Ahmad pun melambatkan langkah kakinya agar
bisa terus menatap wajah Sinta. Dalam kamar yang hening Ahmad meletakkan Sinta
perlahan. Wajah polos Sinta begitu bersinar di mata Ahmad. Segera Ahmad pun
keluar kamar agar tidak mengganggu Sinta.
Di
dalam kamarnya sendiri Ahmad kembali merenung dengan semua yang terjadi. Semua
kebahagiaan bersama Angelina terekam dengan sangat baik dalam memori
ingatannya. Tak ada yang luput satu pun kebahagiaan bersama Angelina.
Ingatan-ingatan bersama Angelina terangkai bak video tape yang diputar dalam
video recorder, terangkai begitu indahnya. Entah siapa yang menyambung,
rangkaian itu tersambung dengan angan harapan kebersamaan dalam kehidupan abadi
Ahmad bersama Angelina. Tinggal sedikit lagi dirinya akan bersama sama dalam
ikatan resmi. Tapi semua sirna, lenyap, tak tersisa. Harapan tinggal harapan
laiknya selembar tisu terbakar, musnah dalam kejapan mata. Tak terasa air mata kembali mengalir dari
mata Ahmad. Sinar lampu memantul dari air matanya menghasilkan sinar yang
indah, bersimfoni dengan isak tangis tak terbendung, dentuman cepat jantung tak
luput memeriahkan simfoni kesedihan mendalam.
Bersambung…

0 comments:
Post a Comment