Friday, August 28, 2015

                
                 “Hei, Hei, buka pintunya buruan!” Seru Ahmad.
                “Lo mau mati ya, Sin?! Udah ayo sini masuk ke rumah gw! Sebelum lo malah pingsan” lanjut Ahmad
                Segera saja Sinta, si bayangan Ahmad, mengikuti Ahmad untuk masuk ke dalam rumahnya. Butuh usaha keras baginya untuk berdiri akibat kekurangan oksigen tadi. Melihat kondisi Sinta yang sempoyongan susah payah, Ahmad segera saja membantu Sinta berdiri serta berjalan menuju rumahnya.
                Setelah membantunya sampai duduk di sofa, segera Ahmad menyiapkan minum air putih segar untuk Sinta. Tidak lupa juga Ahmad membawa handuk basah untuk membasuh muka Sinta serta membantunya menghilangkan rasa pusing akibat kekurangan oksigen tadi. Butuh waktu lama untuk Sinta kembali ke kondisinya. Walaupun begitu Ahmad dengan sabar menunggu Sinta.
                “Udah segeran Sin?” tanya Ahmad yang dijawab dengan gelengan kepala Sinta.
           “Yaudah malam ini tidur di rumah gw aja, ga aman kalo lo balik bawa kendaraan pulang setelah kondisi lo yang kaya begini.” Terang Ahmad.
                Permintaan dari Ahmad ini membuat Sinta hanya terdiam membisu dengan tatapan tidak percaya menatap Ahmad. Tak pernah terbesit sekalipun dalam bayang Sinta dia bisa tidur di rumah Ahmad, lelaki pujaannya. Namun relung hatinya mengelak dengan kondisi ini. Hatinya berusaha meyakinkan dirinya sesungguhnya Ahmad adalah seorang dokter tentu sudah kewajiban bagi seorang dokter menolong setiap pasiennya. Hampir saja Sinta bahagia, Ahmad mau menerima dirinya. Wajah Sinta yang akan menampakkan ceria dalam sekejap saja berubah muram kelam. Ahmad pun jelas memperhatikan perubahan mimic wajah temannya ini.
                “Kamu kenapa Sin? Ada masalah?” tanya Ahmad lembut. Tapi SInta hanya menggelengkan kepala kembali. Bukan sombong maksud dari sikap SInta. Akan tetapi, mulutnya seakan terkunci rapat membuat suaranya sama sekali tidak mampu berkata.
                “Yaudah kamar lo itu disana ya, udah kuat kan jalan sendiri?” Ahmad menunjuk kamar tamu yang terletak di sebelah kamarnya. Lagi-lagi Sinta mnejawab dengan isyarat anggukan kepala. Tepat setelah itu juga, Sinta bangun dari duduknya dan segera menuju kamar yang telah ditunjukkan Ahmad. Namun, belum sampai setengah langkah menuju kamar, tiba-tiba langkahya terhenti, kedua matanya terasa berputar dan BRUK! Sinta jatuh pingsan. Ahmad pun segera menolong Sinta, membopongnya masuk ke dalam kamar. Saat dalam langkah kakinya, tak sengaja Ahmad melihat wajah polos Sinta. Tak terasa air matanya menetes. Dia teringat wajah Angelina yang seakan saat ini berada pada wajah Sinta. Ahmad pun melambatkan langkah kakinya agar bisa terus menatap wajah Sinta. Dalam kamar yang hening Ahmad meletakkan Sinta perlahan. Wajah polos Sinta begitu bersinar di mata Ahmad. Segera Ahmad pun keluar kamar agar tidak mengganggu Sinta.
                Di dalam kamarnya sendiri Ahmad kembali merenung dengan semua yang terjadi. Semua kebahagiaan bersama Angelina terekam dengan sangat baik dalam memori ingatannya. Tak ada yang luput satu pun kebahagiaan bersama Angelina. Ingatan-ingatan bersama Angelina terangkai bak video tape yang diputar dalam video recorder, terangkai begitu indahnya. Entah siapa yang menyambung, rangkaian itu tersambung dengan angan harapan kebersamaan dalam kehidupan abadi Ahmad bersama Angelina. Tinggal sedikit lagi dirinya akan bersama sama dalam ikatan resmi. Tapi semua sirna, lenyap, tak tersisa. Harapan tinggal harapan laiknya selembar tisu terbakar, musnah dalam kejapan mata.  Tak terasa air mata kembali mengalir dari mata Ahmad. Sinar lampu memantul dari air matanya menghasilkan sinar yang indah, bersimfoni dengan isak tangis tak terbendung, dentuman cepat jantung tak luput memeriahkan simfoni kesedihan mendalam.



Bersambung…

                

0 comments:

Post a Comment