Wednesday, March 2, 2016

                

                  Sinar matahari pagi yang menyelinap melewati sela-sela gordin jendela mencoba memaksa Shinta untuk membuka mata. Shinta dengan tatapan yang masih redup menerka dimana dia sekarang. Dilihatnya sekeliling, aneh yang ada di pikirannya. “ini bukan kamarku, aku dimana?” gumam Shinta. “Pagi, putrid tidur” ucap sebuah sosok yang samar dalam pandangan Shinta. Butuh waktu beberapa detik akhirnya tersadar dalam sebuah lamunan sesaat, “AHMAD! Kok gue disini sih?!” tanya Shinta. “Udah minum the aja dulu biar badan lo agak sehat, gue udah cek badan lo udah ga panas kaya tadi malam” jawab Ahmad dengan senyum manisnya.
                Dalam pagi yang cerah ditemani burung-burung yang bersiul, Shinta dan Ahmad, mereka berdua berbincang berbagai macam obrolan yang seakan tidak ada titik yang membuat akhir. Sang waktulah yang akhirnya menghentikan pembicaraan mereka. Shinta setelah merasa kondisinya membaik, dia pamit pulang. Dia merasa tak enak kepada Ahmad, karena masih dirundung duka atas kepergian Angelina. Dia tak ingin membuat Ahmad segera melupakan Angelina, walaupun disisi lain hati kecilnya masih ingin lebih berlama-lama lagi dengan Ahmad. Belum tentu akan ada waktu seperti ini lagi.
                “Terima kasih ya. Sorry gue malah ganggu waktu lo dengan kebodohan gue.” Sesal Shinta menunduk. “Gapapa lagi Shin. Jangan diulangin lagi ya Shin. Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa hubungin gue aja.” Senyuman sebagai tanda akhir kalimat Ahmad membuat Shinta juga tersenyum bahagia. Dengan jarak sedekat itu dia ingin sekali memeluk Ahmad. Seakan Ahmad mendengar isi hatinya, Ahmad memluk Shinta, berbisik dia kepada Shinta”Thanks ya Shin, maaf banget gue buat lo sampe mau bunuh diri begini. Gue tahu semuanya kok dari Aisyah.” Setelah Ahmad berkata itu dia melepas pelukannya.
                Dalam keadaan hati yang gundah, Shinta pergi meninggalkan Ahmad. Di sisi lain Ahmad mengamati Shinta, dari sosok Shinta terlintas Angelina di samping Shinta, dia menolehkan kepala dan tersenyum kepada Ahmad tak lupa senyuman Angelina dengan lambaian tangan kepada Ahmad. Tak terasa tetesan air mata turun membasahi pipinya. Sosok Angelina di samping Shinta seakan pertanda bagi Ahmad untuk segera merelakan hatinya atas kepergian Angelina. Dan pertanda untuknya menerima kembali hati seorang wanita yang tulus mencintainya.

(bersambung..)

0 comments:

Post a Comment