Sinar
matahari pagi yang menyelinap melewati sela-sela gordin jendela mencoba memaksa
Shinta untuk membuka mata. Shinta dengan tatapan yang masih redup menerka
dimana dia sekarang. Dilihatnya sekeliling, aneh yang ada di pikirannya. “ini
bukan kamarku, aku dimana?” gumam Shinta. “Pagi, putrid tidur” ucap sebuah
sosok yang samar dalam pandangan Shinta. Butuh waktu beberapa detik akhirnya
tersadar dalam sebuah lamunan sesaat, “AHMAD! Kok gue disini sih?!” tanya
Shinta. “Udah minum the aja dulu biar badan lo agak sehat, gue udah cek badan
lo udah ga panas kaya tadi malam” jawab Ahmad dengan senyum manisnya.
Dalam
pagi yang cerah ditemani burung-burung yang bersiul, Shinta dan Ahmad, mereka
berdua berbincang berbagai macam obrolan yang seakan tidak ada titik yang
membuat akhir. Sang waktulah yang akhirnya menghentikan pembicaraan mereka.
Shinta setelah merasa kondisinya membaik, dia pamit pulang. Dia merasa tak enak
kepada Ahmad, karena masih dirundung duka atas kepergian Angelina. Dia tak
ingin membuat Ahmad segera melupakan Angelina, walaupun disisi lain hati
kecilnya masih ingin lebih berlama-lama lagi dengan Ahmad. Belum tentu akan ada
waktu seperti ini lagi.
“Terima
kasih ya. Sorry gue malah ganggu waktu lo dengan kebodohan gue.” Sesal Shinta
menunduk. “Gapapa lagi Shin. Jangan diulangin lagi ya Shin. Hati-hati di jalan,
kalau ada apa-apa hubungin gue aja.” Senyuman sebagai tanda akhir kalimat Ahmad
membuat Shinta juga tersenyum bahagia. Dengan jarak sedekat itu dia ingin
sekali memeluk Ahmad. Seakan Ahmad mendengar isi hatinya, Ahmad memluk Shinta,
berbisik dia kepada Shinta”Thanks ya Shin, maaf banget gue buat lo sampe mau
bunuh diri begini. Gue tahu semuanya kok dari Aisyah.” Setelah Ahmad berkata
itu dia melepas pelukannya.
Dalam
keadaan hati yang gundah, Shinta pergi meninggalkan Ahmad. Di sisi lain Ahmad
mengamati Shinta, dari sosok Shinta terlintas Angelina di samping Shinta, dia
menolehkan kepala dan tersenyum kepada Ahmad tak lupa senyuman Angelina dengan
lambaian tangan kepada Ahmad. Tak terasa tetesan air mata turun membasahi
pipinya. Sosok Angelina di samping Shinta seakan pertanda bagi Ahmad untuk
segera merelakan hatinya atas kepergian Angelina. Dan pertanda untuknya
menerima kembali hati seorang wanita yang tulus mencintainya.
(bersambung..)

0 comments:
Post a Comment