Friday, June 12, 2015


                “Dimana ini?” pertanyaan standard ini muncul saat Aisyah melihat di sekelilingnya hanya ada pepohonan saja. Ditambah suasana yang sejuk. Aneh baginya di dalam rumah sakit bisa ada tempat yang damai seperti ini. Ahmad hanya diam, tak ada kata apa pun yang keluar dari dalam mulutnya untuk menjawab kebingungan Aisyah. Aisyah pun bertanya sekali lagi,”Dimana ini, dok?” Karena tidak mau Aisyah semakin bingung, “Ini di taman rumah sakit yang memang jarang orang tahu karena letaknya agak tersembunyi diantara gedung-gedung baru.” Untuk orang normal dia akan merasa puas dengan jawaban itu, tapi dengan hati yang tidak karuan Aisyah hanya diam saja, dalam hatinya sesungguhnya tidak peduli dimana dia berada, toh kakinya tidak akan kembali.
                Beberapa menit keduanya hanya diam membisu. Aisyah hanya melamun saja diatas kursi roda, sedangkan Ahmad hanya tersenyum melihat burung-burung berkicauan diatas kolam pemandian burung. Suasana damai dan sejuk itu masih ditambah angin yang berhembus seakan mendamaikan hati orang-orang yang berkunjung ke taman tersebut. Setengah jam sudah mereka berada dsana hanya berdiam dalam pikiran masing-masing. Dalam pikiran Aisyah hanya ada masa depannya tanpa kaki yang lengkap. Dalam pikiran Ahmad hanya ada kedamaian, menjauh dari kejenuhannya bekerja sebagai dokter.
                Sebenarnya Ahmad menunggu sesuatu di taman itu. Dia perhatikan jam yang ada di tangannya. “Sebentar lagi dia datang.” Batinnya berkata dan mencerminkan senyum di wajahnya. Sesaat itu juga datang seekor kucing dari kejauhan. Awalnya Aisyah tidak mempedulikannya, toh hanya kucing biasa, pikirnya. Namun kucing itu semakin lama semakin mendekat. Aisyah mengernyitkan dahinya. Kucing itu hanya punya 3 kaki. Tapi dengan senyum kucing itu tidak menandakan ia merasa berat dengan keadaannya. Meeeeooowww. Suara kucing itu seperti memanggil Ahmad. Denga sigap Ahmad pun merogoh kantung jas dokternya. Dari awal Ahmad sudah mempersiapkan makanan yang disuka oleh kucing tersebut, ikan goreng.
                Kucing itu memakannya dengan lahap sekali. Sesekali Ahmad mengelusnya dengan manja. Kucing itu hanya berguling saja ketika Ahmad mulai menggelitik kucing itu. Aisyah yang menyaksikan kejadian itu, hatinya mulai terbuka. Dia mulai sadar, akan selalu ada orang yang membantunya. Seperti kucing ini, dia tetap bisa makan walau hanya punya 3 kaki. “Tapi, itu berarti aku harus jadi pengemis?” di saat pikirannya mulai terbuka, sisi hatinya yang lain protes seakan tidak ingin Aisyah bisa terbuka pikirannya.
                Pikirannya kembali berkecamuk. Di saat itu dia tidak sadar kucing itu pergi membawa makanan yang diberikan Ahmad. “Dulu kucing itu kakinya lengkap. Aku dan pacarku, hmm bukan, calon istriku lebih tepatnya sering bermain dengan kucing itu disini. Dari kucing itu kecil kami merawatnya bersama, sampai ketika seseorang yang tidak  menyukai kucing itu mengikatnya di tiang dan gilany dia berusaha menabrak kucing itu. Kebetulan istriku lewat dan berhasil menyelamatkan kucing itu. Walaupun begitu kucing itu harus kehilangan kakinya karena patah. Dan kejadian itu tepat di mataku sebagai seorang dokter yang dipuji-puji kala itu.” Cerita Ahmad mengingat kejadian yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu.
                Matanya mulai berlinang meningat kejadian itu. Aisyah sendiri bingung kenapa harus menangis, padahal kucing itu selamat dan hanya kehilangan satu kaki. Dan lagipula itu hanya binatang. Dan apa hubungannya kucing dengan dia sebagai dokter yang dipuji, toh Ahmad adalah doketr untuk manusia bukan binatang. Logika Aisyah tidak bisa berjalan menangkap cerita Ahmad. Dalam kebingungan Aisyah melihat Ahmad secara perlahan mendekati sesuatu seperti batu nisan. Dan benar saja itu adalah batu nisan. Saat ini Aisyah mulai mengerti apa yang terjadi.
                Aisyah memutar roda kursinya untuk mendatangi Ahmad yang menangis di batu nisan itu. Benar saja kalau dilihat umur yang tertera di batu nisan itu pastilah kekasih Ahmad. “Aisyah kamu beruntung masih selamat walaupun harus kehilangan kakimu. Setidaknya kamu masi bisa berjalan dengan kaki palsu yang bisa membantumu. Masih bisa tersenyum di depan orang-orang yang kamu sayangi. Masih tetap terlihat cantik walaupun tak sempurna.” Kata-kata Ahmad ini sekarang benar-benar menyadarkan Aisyah. Dengan perlahan Aisyah pun berkata,”Iya dokter benar, aku bodoh kalau masih merasa terpuruk. Terima Kasih sudah menunjukkan kepada saya agar saya bisa sadar. Maaf dokter harus menunjukkan dengan cara ini” kata terakhir Aisyah diakhiri dengan senyum manisnya. Ahmad pun membalas senyumnya. “Ya gapapa, ayo sekarang kita kembali ke kamarmu, sudah mulai malam.””Oiya tapi dok, bisakah saya setiap sore diajak ke taman ini?” tanya Aisyah sesaat sebelum Ahmad mulai mendorong kursi rodanya. “Boleh, nanti biar saya suruh suster jaga mengantar kamu.” Jawab Ahmad mulai mendorong kursi rodanya.
                Tiba di depan kamar, “Dok, saya maunya dokter yang mengantarkan, jangan yang lain. Please, ya dok.” Pinta Aisyah dengan wajah memelasnya kepada Ahmad. “Hmmm ok, saya usahakan ya.” Jawaban ini membuat hati Aisyah sumringah. Dia senang bisa mendapatkan semangat yang telah hilang. Dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi besok. Dia ingin bercerita kejadian yang baru dialaminya kepada mamanya. Setelah membantu Aisyah untuk kembali pada tempat tidurnya, Ahmad segera kembali untuk bekerja. Ketika tepat di depan pintu untuk keluar, Aisyah menghentikannya dengan memanggil dirinya. “Dok, terima kasih banyak ya” kali ini senyum Aisyah benar-benar mengingatkan Ahmad pada kekasihnya yang telah meninggal. Ahmad pun hanya membalas senyum dan anggukan kepala, langsung saja dia segera keluar kamar. “Dokter Ahmad sebenarnya orangnya baik ternyata ya, beda sama setiap cowo yang aku kenal.” Gumam Aisyah. Tak jauh dari kamar Aisyah Ahmad kembali menangis menahan rasa sakit hatinya atas kejadian yang telah berlalu itu. Di saat menangis tak sadar ada seseorang duduk di samping Ahmad. Ahmad pun kaget dengan orang yang duduk di sampingnya. “Kamu kan..”

Bersambung…

0 comments:

Post a Comment