“Dimana
ini?” pertanyaan standard ini muncul saat Aisyah melihat di sekelilingnya hanya
ada pepohonan saja. Ditambah suasana yang sejuk. Aneh baginya di dalam rumah
sakit bisa ada tempat yang damai seperti ini. Ahmad hanya diam, tak ada kata
apa pun yang keluar dari dalam mulutnya untuk menjawab kebingungan Aisyah.
Aisyah pun bertanya sekali lagi,”Dimana ini, dok?” Karena tidak mau Aisyah
semakin bingung, “Ini di taman rumah sakit yang memang jarang orang tahu karena
letaknya agak tersembunyi diantara gedung-gedung baru.” Untuk orang normal dia
akan merasa puas dengan jawaban itu, tapi dengan hati yang tidak karuan Aisyah
hanya diam saja, dalam hatinya sesungguhnya tidak peduli dimana dia berada, toh
kakinya tidak akan kembali.
Beberapa
menit keduanya hanya diam membisu. Aisyah hanya melamun saja diatas kursi roda,
sedangkan Ahmad hanya tersenyum melihat burung-burung berkicauan diatas kolam
pemandian burung. Suasana damai dan sejuk itu masih ditambah angin yang
berhembus seakan mendamaikan hati orang-orang yang berkunjung ke taman
tersebut. Setengah jam sudah mereka berada dsana hanya berdiam dalam pikiran
masing-masing. Dalam pikiran Aisyah hanya ada masa depannya tanpa kaki yang
lengkap. Dalam pikiran Ahmad hanya ada kedamaian, menjauh dari kejenuhannya
bekerja sebagai dokter.
Sebenarnya
Ahmad menunggu sesuatu di taman itu. Dia perhatikan jam yang ada di tangannya. “Sebentar
lagi dia datang.” Batinnya berkata dan mencerminkan senyum di wajahnya. Sesaat
itu juga datang seekor kucing dari kejauhan. Awalnya Aisyah tidak
mempedulikannya, toh hanya kucing biasa, pikirnya. Namun kucing itu semakin
lama semakin mendekat. Aisyah mengernyitkan dahinya. Kucing itu hanya punya 3
kaki. Tapi dengan senyum kucing itu tidak menandakan ia merasa berat dengan
keadaannya. Meeeeooowww. Suara kucing itu seperti memanggil Ahmad. Denga sigap
Ahmad pun merogoh kantung jas dokternya. Dari awal Ahmad sudah mempersiapkan
makanan yang disuka oleh kucing tersebut, ikan goreng.
Kucing
itu memakannya dengan lahap sekali. Sesekali Ahmad mengelusnya dengan manja.
Kucing itu hanya berguling saja ketika Ahmad mulai menggelitik kucing itu.
Aisyah yang menyaksikan kejadian itu, hatinya mulai terbuka. Dia mulai sadar,
akan selalu ada orang yang membantunya. Seperti kucing ini, dia tetap bisa
makan walau hanya punya 3 kaki. “Tapi, itu berarti aku harus jadi pengemis?” di
saat pikirannya mulai terbuka, sisi hatinya yang lain protes seakan tidak ingin
Aisyah bisa terbuka pikirannya.
Pikirannya
kembali berkecamuk. Di saat itu dia tidak sadar kucing itu pergi membawa
makanan yang diberikan Ahmad. “Dulu kucing itu kakinya lengkap. Aku dan
pacarku, hmm bukan, calon istriku lebih tepatnya sering bermain dengan kucing
itu disini. Dari kucing itu kecil kami merawatnya bersama, sampai ketika
seseorang yang tidak menyukai kucing itu
mengikatnya di tiang dan gilany dia berusaha menabrak kucing itu. Kebetulan
istriku lewat dan berhasil menyelamatkan kucing itu. Walaupun begitu kucing itu
harus kehilangan kakinya karena patah. Dan kejadian itu tepat di mataku sebagai
seorang dokter yang dipuji-puji kala itu.” Cerita Ahmad mengingat kejadian yang
telah terjadi beberapa tahun yang lalu.
Matanya
mulai berlinang meningat kejadian itu. Aisyah sendiri bingung kenapa harus
menangis, padahal kucing itu selamat dan hanya kehilangan satu kaki. Dan
lagipula itu hanya binatang. Dan apa hubungannya kucing dengan dia sebagai
dokter yang dipuji, toh Ahmad adalah doketr untuk manusia bukan binatang.
Logika Aisyah tidak bisa berjalan menangkap cerita Ahmad. Dalam kebingungan
Aisyah melihat Ahmad secara perlahan mendekati sesuatu seperti batu nisan. Dan
benar saja itu adalah batu nisan. Saat ini Aisyah mulai mengerti apa yang
terjadi.
Aisyah
memutar roda kursinya untuk mendatangi Ahmad yang menangis di batu nisan itu.
Benar saja kalau dilihat umur yang tertera di batu nisan itu pastilah kekasih
Ahmad. “Aisyah kamu beruntung masih selamat walaupun harus kehilangan kakimu.
Setidaknya kamu masi bisa berjalan dengan kaki palsu yang bisa membantumu.
Masih bisa tersenyum di depan orang-orang yang kamu sayangi. Masih tetap
terlihat cantik walaupun tak sempurna.” Kata-kata Ahmad ini sekarang
benar-benar menyadarkan Aisyah. Dengan perlahan Aisyah pun berkata,”Iya dokter
benar, aku bodoh kalau masih merasa terpuruk. Terima Kasih sudah menunjukkan
kepada saya agar saya bisa sadar. Maaf dokter harus menunjukkan dengan cara ini”
kata terakhir Aisyah diakhiri dengan senyum manisnya. Ahmad pun membalas
senyumnya. “Ya gapapa, ayo sekarang kita kembali ke kamarmu, sudah mulai malam.””Oiya
tapi dok, bisakah saya setiap sore diajak ke taman ini?” tanya Aisyah sesaat
sebelum Ahmad mulai mendorong kursi rodanya. “Boleh, nanti biar saya suruh
suster jaga mengantar kamu.” Jawab Ahmad mulai mendorong kursi rodanya.
Tiba
di depan kamar, “Dok, saya maunya dokter yang mengantarkan, jangan yang lain.
Please, ya dok.” Pinta Aisyah dengan wajah memelasnya kepada Ahmad. “Hmmm ok,
saya usahakan ya.” Jawaban ini membuat hati Aisyah sumringah. Dia senang bisa
mendapatkan semangat yang telah hilang. Dia tak bisa membayangkan apa yang akan
terjadi besok. Dia ingin bercerita kejadian yang baru dialaminya kepada
mamanya. Setelah membantu Aisyah untuk kembali pada tempat tidurnya, Ahmad
segera kembali untuk bekerja. Ketika tepat di depan pintu untuk keluar, Aisyah
menghentikannya dengan memanggil dirinya. “Dok, terima kasih banyak ya” kali
ini senyum Aisyah benar-benar mengingatkan Ahmad pada kekasihnya yang telah
meninggal. Ahmad pun hanya membalas senyum dan anggukan kepala, langsung saja
dia segera keluar kamar. “Dokter Ahmad sebenarnya orangnya baik ternyata ya,
beda sama setiap cowo yang aku kenal.” Gumam Aisyah. Tak jauh dari kamar Aisyah
Ahmad kembali menangis menahan rasa sakit hatinya atas kejadian yang telah
berlalu itu. Di saat menangis tak sadar ada seseorang duduk di samping Ahmad.
Ahmad pun kaget dengan orang yang duduk di sampingnya. “Kamu kan..”
Bersambung…

0 comments:
Post a Comment